Mobil-Mobil Saya

Posted on January 19, 2012

0


Saya bukan orang penggemar mobil. Kalau saya tidak punya pasangan hidup yang cermat memperhatikan usia mobil dan merek-merek mobil, barangkali saya sampai detik ini masih pergi pulang kerja dengan mengendarai mobil Mitsubishi T 120 SS yang saya beli di tahun 1994! Walaah. . . . payah tenan. Tapi iya kok, saya memang ndak perduli soal mobil, asal bisa jalan dan tidak meledak waktu distarter aja ya sudah. Dari istri saya, saya dengar bahwa sekarang ini kebiasaan orang-orang kelas menengah ke bawah adalah mengambil kredit untuk beli mobil baru, kemudian setelah 5 tahun ketika kreditnya sudah lunas, mereka mengambil lagi kredit baru untuk beli mobil tahun terbaru. Oo, jadi begitu ya? Gila, pikir saya, seumur hidup hanya buka tutup kredit untuk bisa beli mobil keluaran terbaru.

Karena saya bukan kelas orang super kaya, mobil saya biasa-biasa saja. Justru karena biasa itu, maka mobil yang saya beli adalah mobil rakyat, alias banyak kembarannya karena banyak yang memakai. Akibatnya kadang-kadang terjadi peristiwa yang sungguh ‘mengenaskan’ seperti berikut ini:

Siang hari di parkiran Ubaya, saya dengan stel yakin mengeluarkan kunci untuk membuka sebuah mobil Xenia biru. Ternyata kunci itu ndak mau masuk juga ke lubangnya di pintu sebelah kanan. Lho, kenapa ya?? Setelah saya lihat-lihat lagi, astagaaaa. . . . . itu bukan mobil saya! Mobil Xenia saya, yang juga biru, ternyata di sebelahnya! Ya ampuun. . . . kok untung mobil itu ndak dipasangi alarm, coba iya kan saya disangka mau maling mobil.

Yah, waktu itu, tahun 2006 – 2008, Xenia sedang laris-larisnya karena harganya yang terjangkau rakyat kebanyakan. Akibatnya, mobil yang saya pakai itu banyak kembarannya, bukan hanya di jalan, tapi juga di parkiran.

Nah, setelah 2008 lewat, tahun 2009 saya ganti Livina. Atas saran siapa? Ya saran istri saya, saya mah mana perduli dengan ganti mobil baru. Pikir saya, karena Xenianya masih bagus, ya kenapa nggak saya pakai terus aja. Tapi pemikiran seorang wanita yang sayang sama suaminya dan sangat peduli soal kenyamanan, harga jual dan sebagainya ternyata lain. Saya dibujuk-bujuk beli mobil baru. Jadilah saya beli Livina setelah Xenia saya jual dengan sukses alias dengan harga yang cukup bagus.

Nah, suatu ketika di sebuah swalayan, saya keluar menenteng barang belanjaan, dan dengan enaknya melenggang masuk ke sebuah Livina abu-abu yang diparkir di halamannya. Begitu masuk, hmm… perasaan saya jadi agak ndak enak deh. Kenapa mendadak ada boneka penguin di jok belakangnya yaaa? Perasaan, saya ndak pernah menaruh aksesoris apapun di mobil.

Nah, sepersekian detik kemudian saya baru sadar bahwa saya memasuki mobil orang lain yang kebetulan juga mengendarai Livina abu-abu. Mobil saya sendiri ternyata masih agak jauh dari situ. Oh, nooooo!

Jadi, kayaknya saya harus beli sesuatu yang orang lain tidak memakainya. Apa ya? Istri saya praktis terbebas dari masalah konyol seperti itu, karena mobilnya adalah Peugeot 206 yang jarang berkeliaran di jalan raya.

Beli helikopter? Mungkin ide bagus, karena pasti nggak ada atau belum ada yang akan menyamai di Malang ini. Tapi duitnya dari mana? Masa iya mau hutang ke bank untuk beli helikopter, ha ha haaa!

Atau beli kuda Sumbawa? Bayangkan, ke kantor naik kuda. Sementara saya kerja, kudanya bisa ditambatkan di tepi kolam renang di Student Center . . .

Di rumah ada sepeda balap. Rasanya itu bagus juga sebagai kendaraan alternatif yang murah, sehat dan tentunya eksklusif, ha ha haa!

Posted in: Uncategorized