Kenapa Merasa Hampa dan Ingin Mati Saja

Posted on January 15, 2012

0


Menarik membaca di Jawa Pos pagi ini kisah seorang perempuan asal Surabaya yang sekarang menjadi seorang terapis penolong orang-orang yang mengalami keputusasaan besar dalam hidupnya. Namanya saya lupa, tapi yang jelas dia mengatakan ada tiga penyebab utama perasaan tertekan atau bahkan keinginan bunuh diri: relasi, kesehatan, dan kondisi ekonomi.

Orang yang terus menerus dirundung kemiskinan, atau yang sekian puluh kali bangkrut setelah mencoba berusaha, akan sangat mudah merasa depresi. Kasus-kasus seperti ini makin banyak. Baru saja tadi pagi di TV ada berita seorang buruh bangunan mengakhiri hidupnya setelah sekian lama bergulat dalam kemiskinan. Ya, siapa yang tahan hidup dalam kemiskinan seperti itu.

Orang yang terus menerus sakit dan tidak kunjung sembuh setelah berobat kemana-mana juga mudah dihinggapi perasaan depresi. Ini pun sudah sering kita baca di media massa. Beberapa kasus bunuh diri, setelah ditelusuri, ternyata dipicu oleh perasaan putus asa mencari kesembuhan. Seribu kali berobat, seribu kali masih kambuh lagi. Tragis memang…

Nah, yang ketiga adalah relasi, terutama relasi dengan pasangan hidup atau pacar. Ternyata ini pun bisa menjadi pemicu perasaan depresi. Saya masih ingat kasus seorang aktor terkenal, JW, yang berpacaran sekian lama dengan seorang aktris, DS, di tahun akhir 80 an. Begitu DS memutuskan hubungan, JW nya limbung, dan nyaris mengakhiri hidupnya. Untung akhirnya dia bertemu dengan seorang wanita lain yang akhirnya bisa mencerahkan hidupnya kembali.

Nampaknya orang yang bunuh diri karena putus hubungan dengan kekasihnya adalah orang yang lembek. Buktinya saya melihat banyak kenalan yang juga mengalami kisah yang sama, namun tetap tegar dan, walaupun sempat murung berhari-hari, akhirnya toh masih bisa melanjutkan hidup dan menemukan kembali keceriaannya. Salah satu dari mereka pernah bilang kepada saya: “why should I cry endlessly over a guy who has decided that he cannot love me anymore?”. Ya, bener juga ya tho?

Lha tapi kalau tidak diputuskan oleh sang kekasih namun tetap saja harus putus karena kondisi dan situasi tidak mengijinkan, terus gimana? Apa ya bisa pulih secepat itu? Bagaimana kalau perpisahan itu kemudian mengakibatkan kehampaan yang berkepanjangan dalam hidup yang kemudian menjalar pada kesehatan fisik dan akhirnya keputusan untuk mati saja?

Saya tidak tahu jawabnya, dan juga tidak mau bersusah payah menemukan jawabnya. Saya kan hanya sedang menulis tiga penyebab bunuh diri, disertai harapan semoga kita semua dijauhkan dari penyebab-penyebab tersebut . . . .

Posted in: Uncategorized