Kenapa KOMPAS

Posted on January 14, 2012

0


Pagi ini saya bangun dengan perasaan agak gusar. Kenapa? Sederhana: harian KOMPAS belum datang, dan ternyata terlambat satu jam dari jam biasanya. Sejak mulai berlangganan KOMPAS lagi, ternyata membacanya merupakan ritual yang harus saya lakukan di pagi hari, selain berdoa tentunya.

Saya sudah mengenal harian KOMPAS bertahun-tahun, puluhan tahun bahkan, karena sejak kecil masih bocah ya harian itulah yang saya lihat hadir di rumah orang tua saya. Ayah saya punya kebiasaan membacanya setiap sore sambil mengirup kopinya di halaman belakang; tanpa sadar, kebiasaan itu kemudian saya tiru sampai sekarang.

Ketika akhirnya sudah tinggal di rumah sendiri, saya mencoba langganan JP, sebuah koran terbitan Surabaya, dan KOMPAS nya saya hentikan. Celaka tiga belas, Ibu saya tahu. Langsung saja beliau berkomentar: “Calon Doktor kok bacaannya JP??! Ayo, langganan Kompas lagi sana!”. Waktu itu saya memang sedang studi S3. Rupanya beliau berpendapat bahwa seorang calon lulusan S3 harus membaca harian yang jauh lebih berbobot daripada JP.

Jadi saya mulai lagi melanggan KOMPAS. Terhenti beberapa lama karena ternyata di sebuah swalayan di depan rumah KOMPAS dijual dengan harga lebih murah daripada kalau berlangganan. Plus ada fasilitas KOMPAS online yang bisa saya akses dari kantor. Tapi ternyata saya masih manusia kuno: tidak merasa lega dan nyaman kalau tidak memegang wujud fisik koran berupa kertas itu di tangan saya. Akhirnya, saya mulai berlangganan lagi.

Kenapa KOMPAS? Saya suka media yang isinya bervariasi, dan menambah wawasan saya tentang banyak bidang di luar bidang utama yang saya tekuni. Di Kompas, saya tidak akan melewatkan hal 6 dan 7. Ini halaman yang berupa buah pikir dari para pakar, para pengamat, dan orang-orang yang bisa disebut kaum cendekiawan. Tulisan-tulisannya mengupas suatu masalah dengan dalam, kritis, dan senantiasa bermuara pada nilai-nilai yang kadang-kadang dilupakan oleh hiruk pikuknya kehidupan yang serba pragmatis dan cepat ini. Hal itu senantiasa membuka cakrawala berpikir dan menajamkan cara saya memandang suatu masalah.

Di halaman paling belakang, KOMPAS menyajikan profil orang-orang yang merupakan pengabdi kemanusiaan: sukarelawan, guru di daerah terpencil, perintis gerakan sosial untuk rakyat miskin, perawat seni budaya yang sudah mulai ditinggalkan anak-anak muda, penulis berbakat dan banyak lagi. Orang-orang ini adalah figur teladan untuk manusia lainnya. Saya salut KOMPAS menyajikan profil mereka, dan bukan sekedar pengusaha sukses yang kaya raya setelah meneruskan usaha orangtuanya. . .

Di halaman-halaman lain masih bisa saya temui tips khusus merawat gadget atau kendaraan bermotor. Lalu masih ada ulasan tentang kiat praktis memimpin di tempat kerja, menjalankan organisasi, membentuk networking, dan sebagainya. Setiap hari Jumat, ada lembar khusus yang mengulas musik dan grup band terkemuka mulai dari jadul sampai sekarang. Hari Minggu ada Kompas untuk anak yang penuh warna, gambar, dan tulisan anak-anak.

Satu hal yang saya juga salut adalah selalu ada kolom yang mengulas kebahasaan. Setelah saya lihat secara lebih cermat, harian ini memang menggunakan bahasa Indonesia yang efektif, taat kaidah, dan mudah dipahami. Ini sesuatu yang makin lama makin jarang di tengah kacaunya kemampuan manusia Indonesia berbahasa Indonesia dewasa ini.

Mungkin ada di antara kalian yang berpikir: “Bapak dibayar berapa sama KOMPAS untuk menuliskan puja-puji promosi seperti ini buat mereka?”

Pertanyaan bagus. Jawabnya jelas: tidak sepeser pun. Saya kan bukan sedang mempromosikan KOMPAS dengan imbalan tertentu dari dewan redaksinya atau bahkan pemiliknya; saya hanya sedang mengatakan: kalau mau membaca media yang bermutu dan mencerdaskan, pertimbangkan media yang satu ini.

Posted in: Uncategorized