Ingin Jadi Rektor

Posted on January 14, 2012

0


Mendadak saya kepingin jadi Rektor.

Ndak, ndak disini,kalau disini mah ndak mungkin, karena saya kan sedang jadi dekan. Saya ingin jadi Rektor di sebuah lembaga di nun jauh disana yang belum kenal terlalu banyak peradaban (plus “kebiadaban”) modern.

Kalau saya jadi Rektor, saya akan merekrut karyawan-karyawan dan dosen terbaik.

Lalu setelah mereka bekerja, saya umumkan peraturan: Anda boleh masuk kantor pada jam dan lama waktu yang Anda tentukan sendiri. Saya hanya ingin hasil yang sangat bagus, tepat waktu, minus konflik dan penuh dengan semangat kolaborasi antar rekan.

Nah, jadi saya tidak akan memerlukan mesin finger print wis. Lha karyawan boleh masuk seenaknya sendiri kok. Mereka bebas mau masuk jam berapa, dan mau di kantor berapa lama, dan mengerjakan tugasnya dengan cara apa. Mau dari rumah boleh, mau sambil fitness atau kayang-kayang ya boleh, mau disambi fesbukan ya nggak apa-apa, mau sampai lumuten di kantor di depan komputer ya silakan, wis pokoknya bebas. Tepat pada tanggal deadline yang sudah ditetapkan, saya akan minta laporan hasil kerja mereka. Kalau ternyata hasilnya mengecewakan dan penuh kekurangan disana-sini, karyawan itu langsung akan mendapat teguran keras dan skors tanpa gaji selama sebulan. Kalau ternyata setelah itu masih saja mengecewakan, ya saya pecat. Simpel saja kan?

Pokoknya kriterianya kan jelas: hasil yang bagus, tepat waktu, dan minim konflik.

Mahasiswa tidak akan lagi belajar melalui sistem sks. Sebagai penggantinya, pada awal masuk mereka akan diberi wawasan tentang tujuan hidup, tentang mengasah diri menjadi lebih cakap dan lebih matang, dan tentang bagaimana mereka bisa berkontribusi ke masyarakat. Lalu mereka bebas mengambil kuliah apapun yang mereka mau. Mahasiswa bahasa mau mengambil kuliah filsafat modern ya silakan saja; yang belajar ekonomi dan merasa punya minat menggambar lalu mau mengikuti kuliah seni rupa ya boleh saja.

Dosen-dosennya diberi mandat untuk mengajar dengan baik dan benar-benar membekali mahasiswanya dengan ilmu yang sangat berguna untuk masa depannya. Nah, dosen di lembaga saya akan bebas dari kewajiban membuat soal ujian dan koreksi, karena memang tidak akan ada ujian. Yang ada hanyalah peragaan kinerja mahasiswa setelah mengikuti kuliah tersebut berdasarkan rambu-rambu yang diberikan dosen; lalu mereka akan diminta menuliskan sendiri kemampuan yang telah didapatnya. Disini mereka dilatih dan dididik untuk jujur sejujur-jujurnya, tidak boleh menilai dirinya terlalu tinggi, atau juga terlalu rendah. Nanti uraian itulah yang akan berfungsi sebagai ‘transkrip’ yang akan mereka tunjukkan ke dunia kerja. Contohnya seperti ini:

“Saya mengikuti kuliah analisis wacana. Saya belajar bagaimana membuat iklan yang memikat pembaca. Saya menjadi cakap dalam merangkai kalimat-kalimat yang efektif dan menarik, walaupun untuk aspek tata bahasa saya masih perlu koreksi ulang.”

Demikianlah mimpi saya.

Posted in: Uncategorized