Melayani Orang Curhat

Posted on January 13, 2012

0


Suatu hari, si A datang ke kantor sambil menggerutu. Ternyata dia sedang merasa sebal oleh tindakan seseorang, yaitu staf di bagian lain yang dianggapnya ketus dan tidak ramah, dan malah menyalahkan dirinya, bukan melayani dengan baik. Dia mengomel panjang pendek, lalu akhirnya curhat ke Anda menumpahkan segala kekesalannya. Bagaimana sikap Anda?

(A). Anda mengatakan “Ya, kamu itu mbok ya jangan gitu. Mungkin justru kamu yang salah, sehingga dia menjadi sebal dan akhirnya malah bersikap ketus sama kamu. Jadi orang itu harus sabar dan muarh senyum dalam setiap situasi, dan bla bla bla. . . ”

(B). Anda tidak mengatakan apa-apa, kecuali menggumam pendek: “Hm-mm,”. . . . “O, gitu ya?”, “Hm-mm”

(C). Anda mengatakan: “Hmm, iya, sikap dia seperti itu memang sangat menyebalkan ya? Ya, ya ya, ya pantaslah kalau kamu kesal; dia tidak seharusnya bersikap begitu, kan kamu patut mendapat jawaban dan pelayanan yang baik, dan bla bla bla….”

Yang mana sikap yang Anda akan ambil?

Seandainya Anda menjadi si A, yaitu orang yang sedang kesal dan sedang curhat ke teman dekat Anda, sikap mana dari ketiga pilihan di atas yang Anda anggap paling simpatik?

Saya bertanya kepada seseorang, dan ternyata dia memilih (A). Dia lebih suka diingatkan kalau dia memang salah. “Kejujuran memang agak menyakitkan, tapi itu perlu” katanya.

Saya pribadi ternyata lebih suka perlakuan (C). Buat saya, itu menunjukkan teman saya punya empati. Dia bisa merasakan apa yang sedang saya rasakan, dan dia mengatakan sesuatu yang intinya mendukung saya atau setidaknya tidak menyalahkan saya.

Yang paling bagus ternyata adalah kombinasi (C) dan (A). Artinya, setelah memberikan empatinya dan membuat saya merasa lega karena merasa didengarkan dan dibela, baru kemudian berangsur-angsur teman saya itu menunjukkan secara jelas duduk perkaranya dan membukakan mata saya akan kondisi yang lebih luas. Dengan demikian, saya tidak mengakhiri curhat dengan merasa bahwa sayalah orang yang benar dan lainnya pasti salah; selain merasa lega, saya akan menyadari bahwa saya pun punya andil dalam masalah yang membuat kesal itu.

Ada seseorang sedang curhat tentang kekesalannya karena harus menghadiri rapat yang menurut dia “gak penting blas”. Orang yang dia ajak curhat mengatakan: “Yah, kamu hadir sajalah; kan atasanmu yang menyuruh kamu untuk hadir”. Yiaaa….! Kalau orang yang sedang curhat itu adalah saya, saya akan tambah kesal, ha ha haaa!

Begitu?

Posted in: Uncategorized