Maho dan Saya

Posted on January 12, 2012

2


Waktu saya masih kecil saya melihat sebuah artikel di majalah Femina. Judulnya: “anak kami seorang homo.”

Saya heran, apa makna kata itu? Fotonya juga tidak memberikan petunjuk apa-apa, hanya seorang pemuda usia 25 tahunan di depan sebuah mobil VW, dan kedua orang tuanya melihat di latar belakang. Homo? Apa itu?

Tidak ada seorang pun yang menerangkan. Saya juga diam saja sampai bertahun-tahun kemudian saya sudah duduk di sekolah menengah. Suatu ketika, karena nakal, saya dipanggil oleh seorang guru pria. Setelah memarahi saya beberapa saat, sang guru menyuruh saya menutup pintu di belakang saya. Dengan lugunya saya tutup pintu itu. Lalu mendadak dia memeluk saya erat-erat. Kata-katanya yang tadi keras berubah menjadi sedikit lunak, walaupun nadanya masih memarahi. Saya diam saja; pertama karena saya masih merasa takut, kedua karena ya saya tidak tahu kenapa tahu-tahu dia memeluk seperti itu. . . .

Beberapa tahun kemudian setelah saya duduk di bangku kuliah dan mulai banyak “menjelajah ranah-ranah dosa” di majalah-majalah dan obrolan santai tapi ‘informatif’ dengan teman-teman, barulah saya mengerti apa itu kata “homo”. Saya juga seketika mengerti tindakan sang guru pria itu adalah salah satu manifestasi nafsu nyeleneh itu. Damned.

Pada suatu seminar di Jakarta, saya agak heran mendapati seorang pria menatap saya lekat-lekat dari ujung kepala sampai kaki. Saya yang pada dasarnya cuek tidak begitu menanggapi perlakuan itu, sampai akhirnya seorang teman menyenggol saya dan membisikkan: “kayaknya Pak itu tertarik sama kamu!”. Biyuh, kuaget saya; saya pikir dia mau mengatakan: “kayaknya cewek yang disana itu tertarik sama kamu”, lha kok malah kayak begitu berita yang dia sampaikan. Dari teman itu pula saya jadi tahu bahwa si pria itu ternyata figur cukup kondang di dunia ilmu pengetahuan, dan salah satu pendiri komunitas orang homo di negeri ini. . . . .

Setelah lepas kuliah dan bekerja , wawasan saya makin luas dan saya jadi makin hati-hati terhadap tingkah yang mencurigakan dari beberapa sesama jenis. Kata beberapa orang, ketika masih duduk di sekolah menengah, penampilan saya memang tidak bisa dibilang macho, terkesan–maaf–agak manis (ya tolong jangan dibandingkan dengan sekarang; sekarang mah udah tampang akademisi yang membuat ogah banyak orang, ha ha haa!). Mungkin itu yang menyebabkan beberapa pria dengan orientasi seksual menyimpang ini jadi tertarik ke saya.

Jaman sekarang, ada beberapa istilah yang dipakai untuk menyebut kaum seperti itu: homo, gay, pria sukses (suka sesama), hombreng, dan maho (=manusia homo). Masih tersisa rasa penasaran tentang mereka. Apakah mereka dilahirkan seperti itu? Atau ada peristiwa hidup yang kemudian menjadikan mereka seperti itu? Kenapa makin banyak negara dan negara bagian di Amerika Serikat yang bukan hanya mentolerir mereka tapi juga memberikan hak mereka untuk menikah? Apa ini bukan pertanda perombakan nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai yang baru sama sekali dan membuat beberapa pihak “shock”?

Saya makin banyak tahu tentang maho, tapi saya bersyukur saya tetap pria hetero sejati . . .

Posted in: Uncategorized