Kangen

Posted on January 12, 2012

0


Setelah ada band yang namanya Kangen Band, sekarang setiap kali membaca atau mendengar kata “kangen”, saya jadi teringat band sialan itu. . . .

Tapi, lepas dari band itu, sebenarnya kenapa manusia bisa kangen? Kenapa kita bisa kangen seseorang atau sesuatu suasana, tapi tidak pada orang lain atau suasana lainnya?

Yang lebih aneh lagi, kadang-kadang kangen itu muncul justru kepada orang yang selama ini malah sedikit mengusik kenyamanan kita. Saya punya seorang anak lelaki yang masih nakal-nakalnya pada usia 8 tahun. Kalau dia sudah liburan, yang namanya rumah penuh dengan bekas-bekas kejahilannya: air tumpah dimana-mana, kran wastafel ndak ditutup rapat, mainan berserakan di lantai mulai dari ruang tengah sampai dapur, halaman kotor ndak karuan. Itu masih ditambah dengan suara dia kalau sedang mengganggu kakaknya dan akhirnya mereka bertengkar. Berisik dan kacau pokoknya.

Suatu ketika, dia dan kakaknya diajak jalan-jalan keluar kota oleh adik dan ipar saya. Setelah dari luar kota, mereka masih menginap di rumah kakek neneknya di kompleks Universitas Negeri Malang sana. Begitu mereka pergi, saya dan istri seolah memuaskan kerinduan akan suasana tenang di rumah. Kami bisa bicara di kamar tidur tanpa ada yang tahu-tahu membuka pintu dan berteriak: “Mamaaaaa! . . . ” kemudian mengacak-acak seprei dan melempar bantal guling kemana-mana . . .

Tapi ternyata keesokan harinya terjadilah sesuatu yang tidak saya duga. Ketika sedang nonton TV dengan tenang di tengah suasana yang sepi, mendadak saya kangen kepada si bungsu itu dan segala ulahnya! Rasanya ada yang kurang di rumah itu tanpa ulahnya yang kadang-kadang membuat pusing atau naik pitam. Saya pikir, kok bisa begini ya? Padahal nanti kalau dia sudah pulang ke rumah, saya, Mama dan Emaknya pasti akan tak henti-hentinya mengomel atau menggerutu karena ulahnya . . .

Perasaan kangen juga akan lebih terasa menyengat ketika kita tahu bahwa yang dikangeni masih berada dalam area kemungkinan besar menghubungi kita atau kita hubungi. Maksud saya, kita cenderung tidak akan kangen kepada saudara atau kerabat yang sudah meninggal, karena kita sadar bahwa selama kita hidup di dunia ini tak ada kemungkinan kita untuk bertemu muka lagi dengan mereka. Tapi, sebaliknya, kita akan kangen kepada seorang sahabat atau kekasih yang sedang berada di luar kota selama beberapa hari, karena kita tahu bahwa masih ada kemungkinan kita akan bertemu mereka lagi.

Bagaimana kalau kita sedang bertengkar dengan mereka? Ya, sama saja saya kira. Kalau namanya sudah sahabat dekat, sehebat-hebatnya pertengkaran atau perasaan saling tidak enak itu, pasti masing-masing akan sampai pada satu momen dimana mereka akan saling kangen satu sama lain . . .

Posted in: Uncategorized