Korea Utara vs Amerika Serikat

Posted on January 8, 2012

2


Menakjubkan melihat betapa rakyat Korea Utara meratapi kematian pemimpinnya, Kim Jong Il. Sepanjang jalan yang dilewati peti matinya, orang-orang, wanita, pria, tua, muda, anak-anak, remaja, menangis gerung-gerung sambil sesekali memukuli dadanya sendiri atau menjambak rambutnya. Lebay banget sih??!! Di mata orang luar, yang terlintas pastilah pertanyaan: seberapa istimewanya sih pemimpin yang bernama Kim Jong Il tersebut, sehingga layak diratapi seperti itu?

Tidak ada yang istimewa dari pemimpin-pemimpin negeri komunis. Mereka memerintah dengan tangan besi dan memberangus semua hak untuk berbicara bebas dan berpikir bebas. Rakyatnya hidup sangat sederhana tapi diam-diam mereka langganan anggur-anggur mewah terkenal di istananya. Retorika yang selalu digembor-gemborkan di depan rakyatnya adalah bahwa mereka telah membebaskan negeri dari pengaruh liberalisme negara Barat, khususnya Amerika. Di Korea Utara kebencian terhadap Amerika memuncak sampai lukisan mural di dinding-dinding kota adalah kepala orang Amerika yang ditusuk belati. Sudah jangan mengharap ada wacana tentang iklim global, hak asasi manusia, entrepreneurship, online learning segala macam. Semua ditekan dan diawasi oleh pemerintah. Hukuman untuk mereka yang berani melanggar adalah dibuang ke kamp kerja paksa sampai puluhan tahun. Siapa ndak ngeri? Tak heran rakyatnya hidup patuh tapi senantiasa takut. Saya yakin bahwa tindakan menangis lebay dari rakyatnya ketika Jong Il akhirnya meninggal itu adalah tindakan pura-pura saja.

Namanya juga negeri komunis, maka begitu bapaknya mati yang menggantikan langsung adalah anaknya, tanpa proses pemilihan demokratis segala macam. Maka naiklah Kim Jong Un, anaknya si Jong Il, menjadi pemimpin negeri Korea Utara. Tahu berapa usianya? 30 tahun! Gila ndak, 30 tahun jadi pemimpin negeri komunis yang sekarang ini sedang main ancam seluruh dunia untuk membangun persenjataan nuklirnya. Amerika pun ngeri, dan kalau Anda tahu pun seharusnya ngeri juga: ini anak 30 tahun dengan pengalaman minim dan dengan kepribadian paranoid memimpin sebuah negara yang nekad meledakkan peluru kendali nuklir! Apa jadinya kalau dia ngambek sama duia Barat atau Korea Selatan dan tanpa pikir panjang langsung menekan tombol merah untuk meluncurkan rudal nuklirnya?

Nah, dari Korut kita lihat Amerika Serikat. Ternyata ndak kalah konyolnya. Setelah ekonominya sempat terseok-seok, sekarang negeri adikuasa ini mau memilih presidennya. Calon-calon dari Partai Republik sudah garang berkampanye. Sialnya, menurut para ahli dari beberapa universitas terkenal di sana, ide-ide yang mereka jagokan adalah permainan lawas yang masih mengunggulkan kekuatan militer Amerika. Bukannya mengusung ide kerja sama global, pemahaman budaya lain, kerja sama dengan China sebagai raksasa ekonomi yang sebentar lagi sangat mungkin menggeser posisi AS sebagai jantung peradaban dunia, calon-calon ini malah mengancam akan melibas China, menyerang Iran, dan menggasak Korut. Memang begitulah ciri khas orang-orang dari partai Republik ini, apalagi yang namanya Tea Party. Mereka seolah tidak belajar dari pendahulunya, George Bush Jr., yang melesakkan Amerika ke dalam dua perang besar di Irak dan Afganistan, kemudian menyeret negaranya ke resesi ekonomi karena orang-orang super kayanya malah diberi keringanan pajak.

Demikianlah. Korea Utara dan Amerika Serikat. Suka tidak suka, mau tidak mau, dunia ketar-ketir melihat sepak terjang mereka di panggung dunia, karena apapun yang menjadi tindakannya pasti akan berdampak besar terhadap dunia.

Posted in: Uncategorized