Kehilangan Pegangan

Posted on January 8, 2012

0


Saya mengenang beberapa kenalan yang telah ditinggal orang-orang terdekatnya selama-lamanya. Kalau orang-orang yang meninggal itu adalah figur-figur yang selama ini dekat dengan mereka, saya tak bisa dan tak berani membayangkan betapa rasa kehilangan itu akan sangat menyayat. Kalau tidak cukup tabah, yang ditinggalkan bisa murung berkepanjangan dan akhirnya depresi. Orang yang sehari-harinya mereka jadikan panutan, mereka curhati kalau ada masalah, mereka sapa dan mereka ajak ngobrol dengan riang, tahu-tahu harus pergi untuk selamanya. Untuk yang ditinggalkan, tentulah rasanya seperti jatuh ke jurang gelap tak berdasar, atau mendadak hidup menjadi kosong . . .

Elvis Presley, raja rock n roll itu, sangat dekat dengan ibunya. Bahkan ketika karirnya melesat sebagai penyanyi, dia msaih sangat dekat dengan ibunya. Nah, ketika ibunya meninggal dunia, tak terkira sedihnya sang Elvis. Sedemikian hebat rasa sedih itu sampai akhirnya dia lari ke minuman keras, obat-obatan terlarang, dan tubuhnya pun menggembrot ndak karuan karena memang ndak dijaga lagi. Suaranya yang dulu prima bahkan harus dibantu backing vocals supaya penampilan livenya di panggung tidak kendor. Akhirnya sang raja rock n roll overdosis dan meninggal . . .

Kehilangan pegangan. Bayangkan hidup ini seperti di kereta api yang meluncur cepat, bergoyang liar kesana kemari, sementara Anda harus berdiri di tengah gerbong karena penumpang penuh sesak. Anda berpegangan erat-erat pada sebatang tonggak yang menghubungkan atap kereta dengan lantainya. Anda terayun-ayun, terbanting-banting dengan keras, tapi Anda tidak jatuh karena Anda berpegangan erat pada tonggak besi itu. Suatu ketika, karena kerasnya goyangan kereta, tonggak itu tiba-tiba lepas dari atap kereta. Anda mendadak kehilangan pegangan, terhuyung-huyung kesana kemari dan bergubrakan menubruk orang lain, jendela, bahkan sampai akhirnya jatuh ke lantai kereta. Seperti itulah perasaan orang yang kehilangan orang yang selama ini dijadikannya pegangan dan panutan. Orang yang biasa diajaknya bicara, yang biasa menghibur dan memberinya kekuatan, hilang mendadak, dan akibatnya dia pun terhempas . . .

Seperti apa orang yang dia jadikan panutan itu? Mungkin juga orang biasa saja, tidak perlu seorang yang cerdik pandai atau luar biasa baik atau kaya raya. Orang sederhana yang juga tidak lepas dari kelemahan, tapi yang ternyata merupakan figur yang dia percayai, figur yang nyaman untuk melabuhkan kepenatan, figur yang mau mendengarkan dengan sabar, atau sekedar membuatnya tertawa . . .

Sungguh berat kehilangan orang seperti itu dalam hidup kita. Anda harus benar-benar tabah, harus benar-benar mau bangkit kembali setelah menangisi kepergiannya. Kemungkinan Anda juga harus belajar mandiri, hidup tanpa dia di sisi Anda. Kalau tidak, seperti yang saya tulis posting sebelumnya, hidup akan terasa hampa, atau Anda akan tersaruk-saruk tersesat dari satu lembah hitam ke lembah hitam yang lainnya . . .

Posted in: Uncategorized