Jack Cin Bro Say Man

Posted on January 7, 2012

0


Entah kapan mulainya, tapi saya mulai semakin sering memperhatikan orang-orang sekitar saya memanggil rekan atau temannya dengan panggilan yang aneh-aneh. Yang pertama adalah “jack”, yang saya dengar diucapkan antara dua rekan pria di Ubaya dulu. Mereka memanggil satu sama lain dengan “jack”. Jadi: “aku harus ngajar nih, jack!”, dan dijawab dengan:”Ok, jack, nanti aja ketemu lagi di kantin.”

Jauh sebelum itu saya mendengar orang-orang saling memanggil dengan “man” yang dilafalkan seperti kata aslinya dalam bahasa Inggris . Jadi mereka akan mengatakan: “Kamu harus bisa, man!”, atau “Kalau soal ini kamu memang ahlinya, man!”.

Lalu tak jarang ada komunitas lain yang saling memanggil dengan sebutan “bro”. Ini pasti singkatan dari “brother”. Waktu pak Hari K masih disini, rekan-rekannya sering memanggilnya dengan sebutan itu: “Ayo, bro, semangat!”. Setelah saya perhatikan, yang pantas mendapat panggilan seperti ini adalah orang yang seusia 20 an sammpai awal 35 an. Yang memanggil juga harus sebaya dengan mereka atau lebih muda. Jadi kalau ada rekan yang usianya 50 an dan memanggil saya dengan “bro”, itu pasti akan kelihatan aneh. Itu ndak lumrah, karena saya sudah 40 tahun ke atas dan yang memanggil juga sudah lebih tua daripada saya. Saya juga ndak akan pantas memanggil mantan Kaprodi Sas Ing dengan sebutan itu, karena beliau sudah 70 tahun lebih. Masak gini: “Ayo, bro, kita siap-siap akreditasi!” Gak pantas kan? Nah, kalau saya memanggil si Ginting dengan sebutan itu ya masih terasa agak pas, karena kami sebaya.

Nah, di antara para wanita, setidaknya di sekitar saya, mereka punya kebiasaan memanggil satu sama lain dengan “say”. Jadi mereka akan mengatakan: “Udah selesai tugasnya, say?”; “Malam-malam kok masih di kantor tho, say?”, dan sebagainya. Saya tidak tahu ini singkatan dari apa, tapi mestinya dari kata “sayang”. Astagafirullah al adziim! Sesama perempuan saling memanggil “sayang”! Lesbi banget, gitu lhoh! Lho, kalau memang mereka lesbi ya nggak papa, wis karuan ancur gitu lho. Tapi saya tahu beberapa dari wanita-wanita ini adalah wanita normal, tapi kok ya sampai hati memanggil “say” antara sesamanya? Gak gilo tah?

Akhir-akhir ini saya sering mendengar panggilan yang baru lagi: “Cin”. Entah itu dari singkatan apa, mungkin “cinta” ya. Umumnya digunakan oleh para wanita dengan usia sebaya, atau hmmm. . . . dengan gaya hidup dan pandangan hidup tertentu. Jadi mereka akan mengatakan “Pagii, cin. Liburan kemana?”, atau “Waduuh, cin, sudah dengar kabar terbaru tentang si A belum?”. Ini juga membuat saya bergidik. Sounds very lesbi, hiiiihh! Saya mau komentar sebenarnya, tapi sungkan karena beberapa dari mereka yang memakai istilah itu ada di sekitar saya juga. Nah, pagi ini saya mendapatkan pelampiasan secara tidak sengaja di facebook. Ada rekan pria yang menulis sesuatu di statusnya. Salah seorang temannnya, seorang wanita, kemudian menuliskan komen: “ada apa tho, cin?”. Langsung si pria tadi menjawab: “Aduh, jangan pakai cin can cin kayak gitu. Nggilani!”. Ha ha haaa! Betul, broo, nggilani! Langsung saya “like” komentarnya itu.

Posted in: Uncategorized