Kasih Ibu

Posted on January 6, 2012

0


Seekor singa betina meninggalkan sarangnya untuk mencari makan bagi anaknya yang baru lahir. Dia pergi beberapa lama. Ketika dia kembali ke sarangnya, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Benar saja, ternyata ada seekor ular phyton besar sedang merayap keluar dari sarangnya. Yang lebih membuat hatinya galau adalah perut ular raksasa itu: menggelembung mencurigakan. Si phyton ternyata baru saja menyantap sesuatu.

Segera dicarinya anaknya. Tidak ketemu. Maka tanpa pikir panjang diserangnya si ular itu. Si ular yang kewalahan meladeni serangan itu akhirnya memuntahkan kembali apa yang telah dimakannya. Dari mulutnya keluar si bayi singa, sudah menghitam penuh lendir, mati . . .

Sang singa betina tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sekalipun tak ada suara atau air mata, tampak sekali dia sedang berduka. Dibawanya jasad anaknya yang telah tak bernyawa itu, lalu . . . dimakannya . . .!

Adegan ini saya lihat di National Geographic yang sarat dengan kehidupan hewan itu. Sang narator menjelaskan kenapa sang singa memakan jasad anaknya sendiri. Dia bilang, sang singa tidak mau jejak anaknya terendus oleh hewan predator lain, sehingga tega menyantapnya. Sekilas sadis, tapi buat saya, adegan itu sangat mengharukan karena mencerminkan betapa binatang sebuas singa pun punya naluri keibuan yang sangat kuat.

Ternyata pada siaran-siaran berikutnya, naluri keibuan dan tindakan mempertahankan sang buah hati itu juga ditunjukkan hewan-hewanlain, mulai dari simpanse, buaya, singa laut, ikan paus, sampai burung nasar.

Figur ibu memang tak tergantikan. Maka benarlah pepatah: “kasih anak sepanjang galah; kasih ibu sepanjang jalan.” Setua apapun seorang ibu, dan betapapun sang anak sudah beranjak sangat dewasa, kasih ibu itu tak berujung, senantiasa ada, senantiasa mengiringi, bahkan sekalipun sang anak sudah lupa-lupa ingat untuk mengasihi ibunya. John Lennon almarhum dari the Beatles pernah menulis lirik yang menyayat dalam lagunya “Mother”: “Mother, you have me, but I never have you.” Lirik ini dia tulis sebagai cerminan hidupnya yang tidak pernah merasakan kasih seorang ibu sejak dia masih bocah.

Begitu tingginya penghormatan kepada figur ibu sampai ada kepercayaan yang mengatakan: “Kalau anak bersikap kurang ajar sama ayahnya, itu masih bisa diterima; tapi kalau sudah kurang ajar kepada ibunya, maka celakalah hidupnya.” Ya, mungkin tidak salah. Seorang ibu menyabung nyawa untuk melahirkan anak-anaknya. Saya lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana istri saya berjuang melahirkan anak-anak saya (ada 3 sebenarnya, yang satu meninggal setelah lahir). Memang benar apa yang dikatakan tadi: menyabung nyawa supaya anaknya lahir dengan selamat. Maka sudah layak dan sepantasnya lah kalau ada Hari Ibu, hari dimana semua yang dilahirkan patut mengucapkan terima kasih kepada figur ibunya yang telah melahirkan dan merawatnya sehingga tumbuh dewasa.

Posted in: Uncategorized