Bekerja di Google

Posted on January 3, 2012

0


Google. Semua yang melek huruf dan melek komputer pasti kenal nama ini. Anda tahu nggak bahwa nama “Google” itu sebenarnya berawal dari salah tulis? Nama itu berasal dari kata “Gogool” yang menurut salah satu pembuatnya adalah bilangan dengan jumlah nol yang banyak; namun karena salah tulis, kata itu berubah menjadi “Google”. Nah, nama yang salah itulah yang malah akhirnya jadi kondang ke seantero planet sampai detik ini.

Di Google, ada setidaknya 7 prinsip yang melandasi cara kerja mereka. Tidak semuanya akan saya tulis disini, cukup yang membuat saya terkesan saja.

Yang pertama adalah sistem perekrutan. Di Google, calon karyawan akan diwawancarai oleh banyak orang, mulai dari level atasan langsung sampai puncak pimpinan. Ini perlu karena mereka berprinsip bahwa semakin banyak orang di Google mengenal si calon itu, semakin mereka tahu apakah dia benar-benar pas dengan lingkungan dan tuntutan kerja disitu.

Saya senang melihat sistem ini juga sudah semakin mantap dijalankan di lembaga tempat saya bekerja. Minggu depan pihak HRD meminta saya untuk mewawancarai dan menguji kemampuan mengajar seorang dosen prodi bahasa Indonesia. Setelah selesai wawancara dengan saya, lalau dengan HRD sendiri, lalu terakhir dengan rektor.

Yang kedua adalah koordinasi dan komunikasi. Ini dua kata yang mudah diucapkan tapi ternyata agak sulit dijalankan secara konsisten. Para programmer di Google punya kebiasaan mengirimkan e-mail keapda tim atau rekan-rekannya apa saja yang telah mereka kerjakan dan sedang mereka kerjakan. Ini dilakukan setiap awal Minggu. Akibatnya, semua tahu apa yang masing-masing sedang lakukan, sehingga mempermudah koordinasi. Gampang ya kelihatannya? Tapi coba deh, kalau Anda bekerja di sebauh lembaga atau punya perusahaan sendiri, ternyata ini tidak segampang yang duperkirakan. Apa kira-kira penyebabnya? Saya duga karena budaya “ah, kita kan sama-sama tau, biarpun ndak saling memberitahu”. Aneh ya?

Yang ketiga adalah kemampuan bekerja sama. Ini juga salah satu aspek yang sangat elok dikatakan namun gampang-gampang sulit dilakukan. Di Google, sebuah tim dibentuk dengan cara mengumpulkan orang-orang yang bukan hanya cerdas namun juga mampu bekerja sama dengan manusia lain. Ketua pembentuk tim akan mencari rekomendasi tentang seorang programer dari kawan-kawannya. Kalau soerang programer, misalnya si A, mendapat rekomendasi seperti ini: “Oh, si A itu sangat cerdas, tapi aku ndak mau kerja sama dengan dia. Orangnya perfeksionis dan emosional.” Nah, bisa dipastikan si A tidak akan masuk dalam tim itu. Google lebih mengutamakan orang yang bisa bekerja sama. Prinsip mereka adalah “A few are smarter than one”. Kalau yang ini sudah saya lihat dan alami sendiri di Ma Chung ini . Tim yang terdiri dari orang-orang yang bertalenta dan tahu bagaimana mencapai tujuan secara bersama-sama akan mudah mencapai sukses. Saya pernah terlibat di tim apa saja ya? Study Skills, panitia sarasehan, bazaar MCF, akreditasi; saya kira semuanya berjalan dengan lancar mencapai tujuan karena prinsip di Google itu.

Yang keempat adalah kesempatan untuk senantiasa mengusulkan ide-ide kreatif. Di Google, ada sesi dan media khusus yang menampung saran-saran kreatif dari para stafnya, mulai dari hal sepele sampai cara parkir mobil sampai membuat apps yang dahsyat. Tentu semua saran itu akan melewati proses seleksi yang bertahap sampai akhirnya diterapkan, namun yang penting adalah kemauan dari Google untuk senantiasa memelihara semangat berpikir kritis dan kreatif dari para stafnya.

Posted in: Uncategorized