Ayrton Senna

Posted on January 1, 2012

0


Ayrton Senna adalah juara dunia 3 kali Formula 1 yang berjaya di dekade 80 an sampai awal 90 an. Kharisma dan talentanya yang luar biasa membuatnya dipuja-puja sebagai jawara balap dan pria yang tahu artinya dedikasi total pada karirnya.

“Racing is in my blood,” adalah ungkapannya yang sangat terkenal, menunjukkan keyakinan dan tekadnya yang luar biasa pada dunia balap mobil. Anda tidak perlu menjadi seorang pembalap seperti dia; Anda boleh menjadi apa saja, tapi coba gantikan kata “racing” di atas dengan apapun yang Anda kerjakan sebagai karir atau talenta itu, maka Anda akan tahu apa artinya keyakinan diri amat kuat bahwa apapun yang Anda lakukan memang sudah menjadi tekad dan talenta Anda.

“I am designed to win, not to come second or third,” adalah ungkapan lainnya yang mencerminkan sedikit kesombongan namun juga sarat dengan tekad kuat untuk selalu menang dalam setiap balapan.

Suatu ketika dia ditanya seorang wartawan kenapa gaya balapnya sangat agresif dan beberapa kali menabrak lawannya. Dia menjawab: “If you dont go for those seconds of gap between you and your opponents, you dont race.” Ini cerminan jiwa kompetitifnya yang amat kuat. Dia yakin bahwa balap adalah talentanya, bahwa dia dirancang untuk menang, dan oleh karena itu dia harus mati-matian mengejar lawannya untuk menutup gap (selisih) antara keduanya, kemudian melibas lawannya itu untuk menjadi pemenang.

Tiga ungkapan yang sangat mengesankan. Anda boleh mencamkannya sebagai pelecut semangat dalam dunia yang semakin kompetitif ini. Sekali lagi, Anda tidak perlu menjadi seorang pembalap untuk menerapkannya, karena ungkapan dan pesan dibalik ketiganya berlaku untuk semua bidang kehidupan.

Senna tidak terkalahkan ketika menggeber McLaren Honda dari tahun 1988 sampai 1992, dimana dia menjadi juara dunia 3 kali dengan rekor pole position yang termasuk tertinggi (hanya bisa disaingi oleh Michael Schumacher dan lalu Sebastian Vettel). Tapi bakat luar biasa yang membuat seluruh dunia mengakuinya sebagai jawara justru ketika McLaren beralih mesin dari Honda ke Ford dan Peugeot, yang ternyata tidak sekuat Honda. McLaren terseok-seok dalam kancah persaingan F1, namun Senna menunjukkan kualitasnya sebagai pembalap unggul sungguh. Dengan mobil yang lebih lambat dibandingkan pesaing-pesaingnya, dia menahan lawan-lawannya sampai berlap-lap di Silverstone; lalu tahun berikutnya di sirkuit Donington Park, di tengah hujan, dia melibas lima lawannya hanya dalam satu lap. Luar biasa!

Ayrton Senna pindah ke tim Williams Renault pada tahun 1994. Dia meraih pole position di sirkuit Imola. Ketika balapan tiba, dia melesat dibayangi Schumacher di belakangnya. Pada lap ketiga, mobilnya kehilangan tekanan ban, kemudian merusak suspensinya dan akhirnya mematahkan batang setirnya. Dia melesat deras keluar trek, menghantam tembok di pinggir sirkuit dengan kecepatan lebih dari 200 km/jam. Tabrakan hebat melepas roda kanan depan dan batang suspensinya yang kemudian bak roket melesat balik menghantam kepalanya.

Ayrton Senna tewas pada usia 34 tahun di sirkuit Imola. . . .

Dunia balap berkabung.

Lebih dari satu dekade kemudian, namanya masih dikenang banyak orang. Di Youtube, masih banyak orang yang mengaku masih meneteskan air mata melihat adegan tabrakan yang merenggut nyawanya di Imola. Jurnalis dan pakar dunia balap menyebutnya sebagai pembalap tercepat sepanjang masa. Rekornya kemudian perlahan-lahan dilampaui oleh pembalap-pembalap setelah eranya, namun talenta, dedikasinya pada dunia balap, dan kharismanya menjadi inspirasi banyak orang.

Posted in: Uncategorized