Tragis . . .

Posted on December 29, 2011

0


Di film “Poseidon” ada adegan yang sangat mencekam dan kadang-kadang masih terbayang oleh saya: beberapa orang sedang berjuang menyeberangi sebuah celah dengan cara saling bergandengan tangan memanjat sebuah tangga. Di bawah mereka sekian puluh meter ada baja penuh kobaran nyala api. Orang pertama, kedua, ketiga dan keempat berhasil menyeberang. Sampai pada orang kelima, ketika dia sedang memanjat tangga, anak tangganya mulai berderak mau patah, padahal di bawahnya masih ada satu orang lagi, seorang kelasi kapal, yang harus diselamatkan. Begitu tangga mulai berderak, teman-temannya yang sudah selamat berteriak: “lepaskan peganganmu dari kelasi itu! Dia akan menyeretmu jatuh ke bawah”. Sang orang kelima ragu, sementara sang kelasi yang tahu bahwa nasibnya sedang pada ujung maut mulai berteriak histeris minta supaya tidak dilepaskan. Tangga makin berderak dan sang kelasi yang masih tergantung itu mulai membebani dan menyeret orang-orang yang sudah sampai ke atas. Maka tak ayal lagi sang orang kelima terpaksa melepas pegangannya ke kelasi malang itu. Sang kelasi berteriak histeris saat tubuhnya jatuh melayang ditimpa kobaran api di bawahnya . . .

Mengerikan. Tragis. Tapi kadang-kadang itulah hidup: harus ada yang dikorbankan untuk keselamatan lebih banyak orang, sekalipun ketika selesai mengorbankan, semua saling menangisi nasib yang telah dikorbankan. Ada anak tanggung yang berhasil menyelamatkan nyawa kedua temannya yang mau tenggelam dalam sebuah banjir. Malang, banjir makin deras dan sang teman-temannya yang telah diselamatkan tadi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong sang penyelamat mereka yang kemudian harus terbawa arus kuat. Tubuhnya ditemukan sudah jadi mayat tiga hari kemudian . . .

Itulah hidup. Kadang ada yang harus dipisahkan, dikorbankan, ditinggalkan, supaya lebih banyak pihak terkait bisa selamat, bisa sejahtera. Tragis memang. Menyayat. Tapi tak ada pilihan lain. . . . .

Posted in: Uncategorized