Tak Bisakah Kau Menungguku?

Posted on December 28, 2011

0


Menunggu adalah pekerjaan yang paling saya benci. Ternyata beberapa orang yang saya kenal dekat juga sangat tidak suka kalau harus disuruh menunggu. Tapi kadang-kadang pekerjaan atau tepatnya “bencana” itu memang tidak terelakkan: kita harus menunggu. Entah itu menunggu kekasih yang sedang rapat dan ternyata molor, atau menunggu istri yang sedang mengurus rekening di bank, atau menunggu seorang teman yang sedang pergi, atau menunggu pesawat datang di bandara.

Menunggu menjadi lebih menyebalkan manakala kita tidak mendapat kejelasan kapan sesuatu atau seseorang yang kita tunggu itu akan datang, atau akan selesai. Kalau kita menunggu pesawat yang sudah terlambat lima belas menit, kita akan mulai resah karena tidak tahu mengapa pesawat itu terlambat. Itu sebabnya maskapai penerbangan merasa harus memberitahukan penundaan take-off jauh sebelum waktu boarding: “maaf, keberangkatan ke Surabaya akan tertunda selama 20 menit karena pesawat sedang dipersiapkan.” Menunggu dengan tanpa kejelasan sama sekali akan terasa lebih menyiksa daripada menunggu dengan sedikit mendapatkan informasi kenapa yang ditunggu terlambat.

Yang juga menyebalkan adalah ketika menunggu sesuatu yang sudah dijanjikan “sebentar saja”, tapi ternyata molor ndak karuan. Saya pernah harus mengecewakan seseorang ketika harus rapat. Saya bilang kepadanya: “saya rapat paling hanya 1 jam. Tunggu saja di lobby” Celaka, ternyata peserta rapatnya sangat antusias sampai saya kewalahan harus menyetop mereka, dan ketika saya menutup rapat, ternyata sudah lebih dari 1.5 jam! Bisa dibayangkan kesalnya orang yang harus menunggu saya itu.

Apa yang bisa kita lakukan supaya pekerjaan menunggu menjadi sedikit lebih nyaman? Berdoa. Halah, lha wong urusan menunggu saja kok pakai doa segala? Ha ha haa! Nah, disini ada yang aneh: begitu kita memutuskan untuk melakukan sesuatu yang akan memakan waktu agak lama, eh, yang ditunggu datang, sehingga kita harus buru-buru menghentikan pekerjaan itu. Ketika menunggu kelahiran anak saya yang pertama, saya harus menunggu mulai dari jam 7 pagi sampai ndak karuan jam berapa itu. Belum lahir juga! Maka saya putuskan untuk pulang ke rumah orang tua saya yang tidak jauh dari situ untuk ngopi sambil berendam air hangat. Eh, baru juga mulai berendam, ada telpon dari rumah sakit: “Pak, diminta segera kesini, ini putranya sudah mau lahir!”. Ya ampuun, kenapa kok nggak dari tadi sih? Tergopoh-gopoh saya keluar dari kamar mandi, berpakaian cepat-cepat dan geblas ke rumah sakit. Benar kan? Begitu saya tinggal, eh, malah mau lahir!

Menunggu juga menjadi sedikit lebih nyaman kalau kita tahu bagaimana mengisi waktu yang seolah terbuang itu. BB an? Ah, ndak, itu mah penyakit lama. Kita bisa baca koran, atau ngobrol dengan orang-orang yang juga sedang menjadi korban “penungguan”, atau bermeditasi, atau melihat-lihat sekeliling dan mempelajari hal-hal yang selama ini lewat begitu saja dari penglihatan kita.

“Tak bisakah kau menungguku?” demikian nyanyi si Ariel Peter Pan . . .

Posted in: Uncategorized