Selingkuh

Posted on December 28, 2011

0


Suatu ketika, saya jenuh di kantor dan memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di luar sejenak. Saya melihat banyak manusia duduk bergerombol, membentuk kelompok-kelompok. Hmm, rasanya tak ada salahnya untuk bergabung dengan mereka dan mendengarkan apa yang mereka sedang perbincangkan dengan begitu asyiknya. Ya, kalau ada satu dua kesempatan, siapa tahu saya akan bisa menyumbang satu atau dua pendapat atau bahkan cerita.

Saya menghampiri kelompok pertama. Salah seorang dengan berapi-api sedang bercerita tentang seorang artis terkenal yang katanya “kelak akan dibakar di neraka karena dia selingkuh dengan manajernya sendiri, yang nota bene adalah suami teman satu grupnya”. Yang lain mengangguk-angguk dengan antusias menyambut omongannya.

Hmm, rupanya mereka sedang berbicara tentang perselingkuhan artis. Saya langsung masygul. Bukan ini kelompok yang asyik. Apa sih senangnya membicarakan urusan hati dua orang berjenis kelamin berbeda? Maka sayapun beranjak dari kelompok itu dan pindah ke kelompok lainnya.

Kelompok yang kedua juga heboh. Ada seorang wanita yang sedang dengan penuh semangat membicarakan kejatuhan seorang kyai kondang setelah sang kyai ini menikah lagi dengan seorang wanita lain padahal istrinya masih ada. “Nah, itulah akibatnya kalau beristri dua; orang juga tidak sudi menerimanya sebagai tokoh.”

Yaah, saya pun harus kecewa lagi; ternyata kelompok kedua ini sama saja: ngerasani orang selingkuh. Saya malas mendengarnya. Eneg! Maka sayapun tidak jadi mampir ke situ dan pergi beranjak ke kelompok lain.

Kelompok ketiga lebih hening. Ternyata semua sedang mendengarkan seorang wanita yang sedang menjelaskan sesuatu. Saya mendekat ingin tahu. Ternyata dia sedang menjelaskan teknik-teknik canggih memata-matai suami. Melalui teknik-teknik yang dipaparkannya, akan ketahuan sang suami itu pergi kemana saja, bertemu dengan siapa, pergi dengan siapa, bahkan sampai si siapanya itu bisa dilacak identitasnya sampai ke nomer kartu kreditnya! “Lho, apa gunanya?” saya bertanya. “Ya, supaya pria itu tidak selingkuh!” jawabnya.

F*&k! Ternyata sama aja kelompok ini, bicara tentang selingkuh. Saya langsung kehilangan selera dan balik kanan ambil langkah menjauh dari kerumunan bangsat itu.

Masih ada sekian banyak kelompok manusia, tapi saya sudah tidak tertarik lagi mendekatinya. Paling juga ngerasani orang selingkuh, buat apa saya dengarkan. Omongan seperti itu tidak ada manfaatnya sama sekali, dan buat saya mereka terlihat seperti orang Farisi yang suka melihat kelemahan orang lain tapi cuek atau pura-pura tidak tahu kelemahannya sendiri. Lagian ngapain urusan dua hati manusia dikoar-koarkan, dihakimi, dimata-matai seperti layaknya dosa berat macam mengebom tempat ibadah atau korupsi? Urusan dua hati yang saling bertautan ya biarlah urusan mereka sendiri, biar Tuhan sendiri yang melihat dan mengambil keputusan atasnya.

Saya melangkah kembali ke tempat kerja. Iya, iya, saya tahu mungkin sebagian dari Anda ingin mendebat keras pendapat saya di paragraf di atas itu, tapi kalau mau ngomong ya sana ngomong sampai modar, saya tidak tertarik . . . .

Posted in: Uncategorized