Menjadi Wakil dan Bisa Pating Pethakil

Posted on December 28, 2011

0


Koran-koran sedang ramai memberitakan pengunduran diri Wakil Gubernur Jakarta, Prijanto. Menurut kabar santer, beliau merasa terusik harga dirinya karena sebagai wakil, dia tidak pernah diberi tugas dan mandat oleh Gubernurnya, Fauzi Bowo a.k.a Foke. Bayangkan, jadi wakil, ndak pernah diberi tugas apa-apa, ndak pernah disuruh mewakili di acara ini itu, siapa tidak sakit hati. Jadi wakil tapi tidak bisa pating pethakil (bahasa Jawa; artinya: “berbuat banyak; berulah”), ya sakit hati laah. Ya saya bisa memahami keputusannya untuk mundur. Belakangan, banyak yang menduga bahwa ini sebenarnya manuver politik yang sudah makin menggejala di kalangan politikus-politikus oportunis yang tidak pernah memikirkan rakyatnya tapi hanya memikirkan kepentingan partai dan pribadinya. Ya, terserahlah kalau itu, memang mungkin benar juga, tapi kalau ndak begitu ya bukan politikus Indonesia namanya . . .

Nah, kembali pada jabatan wakil tadi. Saya sebenarnya sudah lama menyimpan banyak pertanyaan tentang jabatan wakil ini. Kalau suatu lembaga sudah mendapat seorang pemimpin yang kemudian membawahi sekian banyak bawahan lengkap dengan wewenang dan tanggung jawab tugasnya masing-masing, sebenarnya untuk apa punya wakil? Kalau tidak hati-hati dan cermat mengangkat wakil, maka akibatnya bisa kayak Prijanto tadi itu: jadi wakil tapi nganggur di kantor sampek lumuten . . .

Maka ketika dipercaya menduduki posisi pimpinan di Fakultas dan diminta memilih seorang kolega sebagai wakil, saya sudah siap sejak awal. SK pertama yang saya buat sebagai Dekan adalah SK Pendelegasian Wewenang antara Dekan dengan Wakil Dekan. Dekan menangani bidang Kurikulum, Akademik, dan SDM, sementara Wakil Dekan menangani urusan Kemahasiswaan, Promosi, dan Jejaring Kerja Sama. Bukan hanya itu, saya tegaskan pula di SK bahwa pelimpahan wewenang itu berarti menyerahkan keputusan kepada Wakil saya untuk menginisiasi sebuah rapat, menyusun rencana, bahkan sampai pada memutuskan. Yang saya minta hanyalah sebatas laporan ketika tahap persiapan dan laporan ketika pelaksanaan sudah berjalan tuntas.

Akibatnya jelas: Wakil Dekan saya mempunyai cukup ruang untuk leluasa bergerak menangani ranah tanggung jawabnya tadi. Karena memang sudah bakatnya di bidang itu, tanpa banyak kesulitan dia sudah menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga di luar kampus, menyusun desain promosi dan melaksanakannya, dan menangani masalah-masalah mahasiswa. Sebagai wakil, dia benar-benar saya buat bisa pating pethakil, ha ha ha! Akibatnya, program kerja terselesaikan satu demi satu, wakil dekan mendapat ruang untuk beraktualisasi, dan saya sebagai bapak pun senang, ha ha haaa!

Posted in: Uncategorized