Valentino Sorri, eh, Rossi dan Ducati

Posted on December 27, 2011

0


Valentino Rossi, sang dewa Moto GP yang telah 4 kali menjadi juara dunia itu, menyatakan tidak menyesal bergabung bersama tim Ducati yang akhirnya terbukti menjadi kartu mati buat prestasinya sepanjang 2011.

Bergabung dengan Ducati, dia jatuh 12 kali, sementara ketika masih menggeber motor Yamaha, dia jatuh hanya 4 kali. Sudah begitu, dia naik podium hanya sekali dengan Ducati, sementara ketika dengan tim Yamaha, dia naik podium belasan kali dan menjadi juara dunia.

Tapi hal paling sial adalah ketika dia harus termakan kutuknya sendiri yang pernah dilontarkannya kepada rivalnya, Casey Stoner. Waktu Stoner mengendarai Ducati, Rossi bilang: “Stoner tidak cukup keras menggeber mesin Desmodesci (mesinnya Ducati) itu.”. Stoner kabarnya sampai sakit hati berkepanjangan akibat komentar itu. Nah, tahun berikutnya, gantian Rossi yang membalap bersama Ducati, dan ternyata dia juga sama payahnya—kalau tidak lebih payah—dibandingkan Stoner.

Pelajaran apa yang bisa ditarik dari seorang maha pembalap seperti Rossi?

Kalau Anda orang Jepang, pelajaran pertama adalah : motor Jepang pasti nomer satu! Ha ha haaaah!

Kalau Anda orang Indonesia, maka pelajaran itu adalah: hati-hatilah berbicara, apalagi kalau itu menyangkut nasib orang lain. Kalau tidak hati-hati, Anda bisa termakan omongan sendiri dan akibatnya bukan hanya menyesal tapi juga malu.

Akankah Rossi kembali menjadi juara dunia di atas Ducati untuk tahun 2012? Banyak yang masih menginginkannya kembali sebagai juara dunia. Saya pun juga sangat menyukai gaya balapnya. Tak ada satu pun pembalap yang sangat prima dan imbang sekaligus punya mental baja di tikungan kecuali Valentino Rossi. Kalau Anda perhatikan, hampir semua manuver menyalipnya dilakukannya di tikungan, dan itu berarti dia punya ketrampilan seorang jawara, keberanian luar biasa, dan kenekadan seorang iblis pencabut nyawa. Dia boleh start di urutan ke 11, tapi begitu lomba dimulai, dia akan merangsek musuhnya satu demi satu sampai akhirnya finis sebagai juara. Sebaai pembalap, talentanya luar biasa. Tapi apalah artinya keunggulan teknik mengemudi seperti itu kalau motor Ducati sialan itu tidak mendukungnya?

Jauh di atas keinginan melihat aksi Rossi, saya pun tahu bahwa tak ada yang kekal di muka bumi. Gelar juara, sehebat apapun itu, pasti akan ada akhirnya. Apa yang pernah lahir pasti akan lenyap. Tapi ah, tak usahlah menjadi filosofis disini, saya hanya mengharapkan aksi-aksi luar biasa di ajang MotoGP dari seorang Valentino Rossi. Semoga dia belum kehilangan taji. Kalau ternyata masih sial juga di atas Ducati, mari kita panggil saja dia “Valentino Sorri”. Ah . . . .!

Posted in: Uncategorized