Natal Kelabu 2011 . . .

Posted on December 25, 2011

0


Kalau ada Natal kelabu, mungkin itu adalah Natal tahun 2011. Hanya sehari menjelang Natal saya menerima kabar sangat mengejutkan: mahasiswa saya, W W, berpulang ke pangkuan Nya setelah sekian lama sakit maag akut.

Sekitar 5 hari sebelumnya saya masih bersama-sama dengannya. Saya ijnkan dia mengerjakan UAS di kantor saya, dan dia dengan susah payah mengerjakannya karena harus menahan sakit di lambungnya. Suatu saat dia akhirnya berhenti mengerjakan dan mengatakan: “Pak, saya ndak kuat lagi. Saya berhenti saja”. Saya kuatkan dia, saya minta beristirahat beberapa saat, setelah itu baru mengerjakan lagi. Saya atur kursi-kursi kantor saya supaya dia bisa berbaring, tapi dia menolak. Akhirnya saya minta dia kembali ke mobilnya supaya dia bisa lebih tenang mengerjakannya disana. Kami berdua berjalan ke basement, menuju ke mobil dimana ibunya menunggu. Beberapa lama kemudian, ibunya ke kantor saya menyerahkan pekerjaannya. Itulah kali terakhir saya bertemu dan mendengar dari dia.

Saya kaget, karena memang tidak menyangka dia akan pergi secepat itu. Saya bilang ke rekan-rekan saya: “W is very ill,” tapi tak sedetikpun terbersit bayangan bahwa penyakit itu akan merenggutnya dari kami semua. . .

Masih terbayang ayahnya menemui saya di kantor, meminta kebijakan dan perhatian khusus untuk putranya, yang langsung saya berikan tanpa pikir panjang. Masih terngiang kata-kata ayahnya: “baru beberapa hari ini dia menyebut-nyebut nama Bapak. Dia sangat respek sama Bapak. Dan dia bilang kalau Bapak ini orangnya enak diajak bicara.” Itu adalah pernyataan yang membuat saya tersentuh. Saya tidak mengenal W secara sangat dekat. Sebagaimana biasanya mahasiswa pria bimbingan PA saya, dia hanya datang untuk berbicara agak banyak ketika konsultasi KRS. Kami menjadi sedikit lebih dekat setelah dia sakit, dan dia beberapa kali saya ijinkan mengikuti ujian susulan di kantor saya. Rupanya perlakuan itu menimbulkan kesan tersendiri baginya. . . .

Siapa mengira dia akan pergi secepat itu. Dengan tubuhnya yang tinggi (mungkin 190 lebih sedikit) dan kegiatan serta prestasinya selama ini, saya berpikir bahwa suatu ketika dia akan sehat kembali. Saya masih menyimpan angan menyalaminya ketika wisuda. Dia sudah sehat, sudah bisa menyelesaikan kuliah dan akhirnya menyalami saya: “Terima kasih, Pak. Saya sudah lulus.” Namun impian tinggal impian, buyar seketika ketika sore itu saya menerima kabar bahwa dia telah pergi selamanya . . . .

Saya datang ke Gotong Royong esok paginya setelah misa Natal pagi di gereja. Bayangkan, ini hari Natal, dan saya harus melayat mahasiswa saya sendiri . . . . Saya tertegun di dekat jalan keluar. Istri saya meminta saya untuk melihatnya di peti, namun saya bilang “I cant stand seeing my student’s dead body.” Lalu kami duduk. Sesaat kemudian suasana langsung terasa mencekam dan haru menyayat ketika ayahnya tak kuasa menahan duka dan jatuh di lantai sambil berteriak dan menangis histeris. . . Istri saya tak kuasa lagi menahan tangisnya.

Mamanya sangat tabah. “Dia meninggal di pelukan saya,” katanya kepada saya sesaat setelah suasana kembali tenang. “Dia bilang dia sudah tidak kuat lagi. Saya bilang, ‘kamu ndak akan kenapa-kenapa. Kamu akan sembuh’. Lalu saya panggil ambulan; ketika ambulan masih dalam perjalanan, dia sudah pergi.”

Ruang itu dipenuhi dengan wajah-wajah berduka dan shocked. Saya melihat teman-temannya sekelas bergerombol di dekat pintu masuk; semua mengguratkan duka dan kekagetan yang mendalam. W baru dua puluh tahun. Kehilangan teman dan mahasiswa pada usia sangat muda seperti itu sungguh sulit diterima.

Saya masih sempat menemui ayahnya di ruang belakang. Wajah orang tua yang sangat berduka, yang beberapa hari sebelumnya masih berbicara di kantor saya, mengucapkan terima kasih untuk semua kebijakan dan perhatian saya buat putranya yang sedang sakit. Saya salami, dan saya katakan: “Yang tabah ya, Pak. Tuhan sudah memberi W tempat terbaik. Dia sudah bahagia bersama Yesus. Kuatkan, ya, Pak.”

W anak yang baik. Dia percaya Tuhan. Beberapa hari sebelum pergi, dia masih sempat mengguratkan kalimat-kalimat pasrah kepada Tuhannya, masih sempat memberikan kutipan dari Injil Markus di BB nya. Dia juga tidak menyerah begitu saja. Dia berjuang sampai akhir, bahkan tantangan UAS pun akhirnya ditaklukannya sekalipun harus mengerang menahan sakit.

“Rest in peace, my student, William Wijaya. Now Jesus has set you free, rest in His care and find peace in His loving hands. I am saddened by your sudden passing away, but I am glad to see you fight til the end.”

Posted in: Uncategorized