Highlight 2011: Menjadi Profesor

Posted on December 21, 2011

0


Salah satu highlights tahun 2011 yang (mungkin) paling dahsyat adalah menjadi Profesor.

Masih ada kata “mungkin” nya disitu sebab bagi saya pribadi pencapaian puncak itu hanya terasa gregetnya seminggu setelah upacara pengukuhan. Seminggu itu saya merasa benar-benar menjadi orang lain: seorang Profesor! Selama seminggu itu pula saya menikmati, atau bahkan terkaget-kaget, dengan tindak laku orang-orang sekitar yang menjadi sangat hormat kepada saya. Sapaan “Prof” dan bukannya “Pak” makin sering terdengar.

Tapi setelah seminggu itu, baru saya merasa seperti memakai baju kedodoran. Pertamanya saya agak be-te dengan poster besar wajah saya yang seminggu penuh bertengger di atas gerbang masuk kampus ini. Risih aja rasanya, karena saya bukan tipe orang yang suka ditonjolkan seperti itu. Maka saya sampai bicara dengan Pak Satpam untuk menurunkan poster itu. “Yang sudah lewat biarlah lewat” pikir saya.

Apa sih istimewanya jadi Profesor? Ndak ada.

Ndak ada?? Hmm. . . . . . . yaah, ada sih. Tunjangannya besar, atau lumayanlah. Itu yang menyenangkan. Yang nggak menyenangkan adalah pengharapan yang ditimpakan oleh orang-orang di sekitar saya karena gelar tersebut. Sebagian mengira bahwa karena saya Profesor, maka saya pasti bisa menuntaskan segala masalah akademik maupun non-akademik, saya pasti bisa melakukan penelitian skala besar, saya pasti bisa melakukan terobosan-terobosan di berbagai bidang. Padahal, saya adalah Profesor di bidang pendidikan bahasa, bukan di bidang sumber daya manusia atau keuangan atau yang lain-lain. Jadi, kalau mengharapkan dan bahkan menuntut saya berprestasi di bidang pendidikan bahasa itu saya terima, tapi kalau di luar itu, saya akan angkat bahu dan mengatakan: “Yah, mungkin orang lain tahu lebih baik daripada saya.”

Menjadi Profesor pada usia 44 tahun dan pada saat yang sama menjadi seorang pejabat Fakultas harus siap-siap menerima kenyataan bahwa karya-karya saya puluhan tahun yang lalu–ketika saya masih seorang Doktor yang hanya berprofesi sebagai dosen biasa–ternyata bisa lebih baik daripada karya-karya saya sekarang. Aneh ya? Saya baru saja membaca hasil penelitian saya yang saya tulis di tahun 1999 dan terkagum-kagum sendiri dengan kualitasnya. Ya, tapi sebenarnya tidak aneh. Waktu itu saya bisa fokus pada penulisan dan penelitian, tidak harus memikirkan urusan administrasi dan non-akademik lainnya seperti sekarang.

Menjadi seorang profesor akan terasa makin sial ketika mengira bahwa saya sudah sampai di puncak. Yang terjadi adalah sebaliknya: saya merasa bahwa ternyata masih banyak sekali yang belum saya ketahui. Semakin banyak membaca dan meneliti, semakin saya menemukan bahwa ternyata selalu masih ada hal-hal gelap yang belum terjelaskan oleh segala upaya memeras otak dan pikiran saya. Seminggu ini saya sudah membaca tentang model-model pemahaman bacaan, Minimalist Program, kerumitan sintaksis, dan beberapa hal lagi, sampai suatu ketika seorang murid bertanya: “Pak, apa sih bedanya aksen dengan dialek?”. Dan sial, saya tidak bisa menjawabnya!

Jadi begitulah, terima kasih atas karunia Mu berupa gelar Profesor ini, gelar yang untuk sebagian dosen adalah mimpi belaka. Pada saat yang sama, percayalah, bahwa saya hanyalah manusia biasa yang terus-menerus harus dan akan tetap mau belajar.

Posted in: Uncategorized