Liburan ke Lovina Singaraja dan Pasir Putih 2011

Posted on December 13, 2011

0


Liburan ke Bali pada pertengahan tahun 2011 menjadi salah satu highlights saya untuk kilas balik 2011 ini. Liburan ini mengesankan, karena diikuti oleh empat keluarga sekaligus: keluarga saya, keluarga adik saya, dan 2 keluarga ipar adik saya. Berangkat dengan 4 mobil dari Malang jam 6 pagi, kami sampai ke Lovina, Singaraja, menjelang malam sekitar jam 7.

Singaraja tidak seramai Denpasar, yang justru membuatnya lebih menarik buat saya. Malam setelah tiba, kami makan di sebuah restoran, dan semua sepakat mengadakan pesta kecil untuk saya dan istri saya yang tepat pada hari itu merayakan ultah pernikahan kami yang ke 16. Nah, ini gambar kami sekeluarga merayakan the 16th wedding anniversary yang sederhana namun berkesan itu:

Pagi-pagi buta kami bangun. Acara hari itu adalah melihat ikan lumba-lumba di pantai Lovina. Naik satu perahu yang ditenagai oleh satu buah motor tempel, kami sekeluarga melaju ke tengah laut sambil mata awas memperhatikan permukaan laut. Begitu ada punggung beberapa lumba-lumba muncul di satu titik, serentak semua perahu mengarah kesana untuk melihatnya lebih dekat. Ya, setelah beberapa kali demikian, saya merasa ini kerjaan agak gendheng juga to ya. Lha wong ngeliat di tivi ya pasti lebih jelas, ngapain juga harus susah payah mengejar-ngejar ikan lumba-lumba di tengah laut dengan perahu bermotor dan itupun hanya disuguhi punggung lumba-lumba yang menyeruak tak lebih dari beberapa detik saja. Ya, memang sih, tapi nonton di tv tak akan memberikan sensasi tegang dan fun diayun gelombang di atas sebuah kapal kayu bercadik dengan motor dan pak nelayan di atasnya.. Ya, baguslah. Hanya sayang sensasi itu agak buyar ditingkah ketawa dan rasa heran tak habis-habisnya setelah kami mendapati bahwa si bungsu yang duduk di bagian depan perahu justru ketiduran! Jadi sementara kami dan yang lain sibuk melihat laut dan sedikit tegang karena kejar-kejaran dengan lumba-lumba, dia malah ngorok sendiri di depan! Bwa ha haaaa!

“Aku bosen,” katanya kemudian. “Lha habis hanya gitu-gitu aja, ngejar-ngejar lumba-lumba tapi ikannya ndak nongol-nongol!”

Menginap satu malam, lalu esoknya menyeberang Selat Bali kembali ke Jawa untuk ke Pasir Putih. Di atas ferry, sempat terjadi atraksi nekad seorang pemuda lokal yang terjun bebas dari kapal ke laut. Cerdiknya, sebelum terjun dia minta beberapa lembar ribuan dulu kepada kami. Rupanya itu ongkos atraksinya. Sayang dia tidak berkepribadian narsis: begitu dapat uang, langsung nyebur sekian belas meter ke laut di bawah, padahal kami semua baru mau menyiapkan BB dan kamera untuk merekam aksinya. Jadi tinggalah cerita ini tanpa diramaikan oleh fotonya.

Selat Bali sekilas tenang, namun begitu melihat betapa kapal ferry lain beberapa ratus meter di depan kami diombang-ambingkan ombak, baru kami sadar laut yang nampak tenang itu ternyata sedang bergelombang besar. Agak miris melihat alunan gelombang besar nyaris mencapai geladak kapal ferry lain itu. Ketika giliran ferry kami di”belai” oleh alunan gelombang itu, semua jadi terhenyak. Kapal serasa diangkat kemudian dijatuhkan, byuoorrr!

“Ha hah haaa!” teriak saya sambil tertawa kecut. “That was fucking big, man!”

Acara berikutnya adalah ke Pasir Putih yang kami capai menjelang petang dari Ketapang. Pantai di Situbondo ini adalah pantai kenangan sejak jaman saya masih bocah umur 5 tahun. Setiap liburan kedua orang tua saya selalu mengajak saya dan adik-adik, bahkan saudara-saudara dekat ke pantai itu. Terakhir kali saya kesana adalah tahun 1984 ketika masih kelas satu SMA. Pada waktu itu, pantainya masih luas; saya dan kedua saudara sepupu saya bisa duduk-duduk memandangi bintang bertaburan di atas lautan yang tak pernah berhenti berdebur. Kami (semua cowok) ngomong segala macam mulai dari hantu laut sampai cewek cantik berenang pakai bikini, . . . . yah, namanya juga cowok-cowok SMA, apalagi yang diomongkan kalau bukan kayak begituan. . . . Nah, sekian puluh tahun kemudian saya masih mengharapkan pemandangan yang sama, tapi . . . . aaaah, sayang sekali sodara-sodara, impian saya tinggal impian. Pantai Pasir Putih yang dulu elok itu sudah berubah banyak. Sama seperti kebanyakan pantai di Indonesia, garis pantainya sudah makin dekat, melibas hamparan pasir yang dulu sangat luas menjadi jauh lebih sempit. Kata orang sana, kalau laut pasang airnya bahkan bisa mencapai pinggir kamar-kamar tempat wisma penginapan. Abrasi tak tertolong. Debur ombaknya yang dulu setiap malam mengiringi tidur saya pun entah kenapa mendadak hilang. Lenyap sudah surga masa kanak-kanak saya. . . .

Namun saya masih sedikit terhibur melihat betapa kedua anak saya ternyata sangat menikmati pantai itu. Tak usah banyak kata, foto-foto di bawah ini sudah mengungkapkan bagaimana senangnya mereka:

Ini putri sulung saya. Kayaknya masih kemarin dia saya bopong kesana-kemari dalam balutan selimut, hanya berupa bayi merah sebesar anak kucing. Sekarang dia bahkan sudah sedikit lebih tinggi daripada saya.

Yang ini si bungsu. Foto ini bagus sekali karena adik saya mengambilnya pada momen “candid” yang sangat pas. Sesaat setelah foto ini diambil, si bungsu mendayung perahunya ke tengah, dan karena tidak tahu caranya mengerem, perahu itu akhirnya sempat menyantap wajah seorang pria yang sedang enak-enak tiduran telentang di air. Kok untung ndak luka. Ah, dasar anak kecil!

Posted in: Uncategorized