Wanita Memasak Pria

Posted on December 11, 2011

0


Ada petuah Korea untuk para pria yang mengatakan: “Kamu akan bahagia selama 3 tahun dengan seorang istri yang cantik, tapi kamu akan bahagia selamanya dengan seorang istri yang pandai memasak.”

Lha kalau udah ndak cantik, payah pula dalam memasak, bagaimana? Ha ha haaah! Ya, makanya belajar. Apa salahnya sih belajar masak? Masak mau kalah sama pria yang pandai memasak?

Cinta bisa datang lewat perut. Salah. Yang benar, cinta bisa datang lewat lidah, hmm . . . maksudnya lewat makanan yang dimasak seorang wanita untuk kekasihnya. Ya, ada juga yang melibatkan lidah tapi itu ndak akan saya bahas disini karena toh semua juga sudah tahu. Yang ini adalah bagaimana soal menumbuhkan cinta dan mempertahankannya lewat masakan.

Saya masih ingat apa yang dimasakkan oleh istri saya pertama kali, waktu dia masih jadi pacar saya tahun 1988. Dia membuat oseng-oseng pete dengan dibumbui kecap dan potongan cabai. Itu sudah puluhan tahun yang lalu, namun masih sangat saya ingat karena momen itulah yang membuat saya makin kepincut dan akhirnya menikahinya. Saya kira, masih ada beberapa pria yang juga seperti saya di jaman modern ini: menyukai wanita yang bisa—tidak perlu harus sangat ahli—memasak untuk suaminya. Ya mungkin juga banyak pria yang lebih suka istrinya buta urusan bumbu dan dapur dan lebih suka melihatnya trampil dalam gadget atau membuat jejaring sosial, atau berdandan wangi dan menor. Ya, ndak mengapa juga, selera orang mana bisa diperdebatkan.

Saya jadi ingat ketika gathering sebuah prodi beberapa minggu silam di kampus. Ketika acara makan dimulai, dari sekian banyak mahasiswi, ada satu yang dengan begitu cekatan dan telaten mengambilkan beberapa jenis masakan untuk dosen-dosennya, dan dengan luwesnya menyajikannya untuk mereka. Peristiwa itu kecil sekali, nyaris tak terlihat di semaraknya acara itu, tapi buat saya tindakannya yang sederhana itu sangat mengesankan. Sangat perempuan, atau bahasa Jawanya: it is so womanly! Very, very nice to see! Saya tidak sempat menanyainya apakah dia pintar masak juga (pertama karena sungkan, kedua karena sate yang disajikannya uenak pol jadi saya lebih suka menyikat sate itu daripada mewawancarainya) ; tapi saya duga dia pasti punya bakat ke arah itu.

Setelah saya ingat lagi pengalaman saya, ternyata urusan masak memasak dan menyajikan ke orang lain ini bisa dilakukan para pria juga. Ketika masih bekerja di luar kota, saya ingat ada satu acara makan-makan bersama beberapa mahasiswa Belanda. Salah satunya memasakkan daging untuk kami. Dia sibuk mengolah daging di dapur, bikin steak ala Belanda. Kemudian setelah masakannya matang, masih lengkap dengan celemek masaknya dia menyajikan irisan-irisan daging itu ke piring para tamu yang sudah menunggu. Itu masih ditambah dengan guyuran soft drink dari botol yang dibawanya ke gelas-gelas kami, kemudian ucapan: “Selamat makaan!”.

Gorgeouss!!

Posted in: Uncategorized