Dapatkan Blackberry Bellagio dengan Diskon 85%

Posted on December 11, 2011

2


Saya punya sebuah mobil Grand Livina tahun 2010 yang akan saya tawarkan kepada publik dengan harga diskon 50% dari harga jual normalnya untuk mobil second hand. Kalau Anda tertarik, Anda bisa mulai antri di depan rumah saya mulai hari Senin besok jam 7 malam. Jangan lupa menyiapkan tanda identitas diri dan kartu kredit Master. Saya dan keluarga akan mulai melayani 2 pengantri pertama jam 7 malam tersebut.

Heran?? Gak masuk akal ya?

Ya, kalau Anda heran, saya juga jauh lebih heran lagi. OK, deh, lupakan soal iklan mobil gendheng itu; itu mah bohongan belaka. Saya hanya sedang menyindir sebuah fenomena sosial yang sampai detik ini masih membuat saya terheran-heran: insiden di sebuah gedung di Jakarta baru-baru ini yang membuat beberapa belas orang luka-luka setelah mereka mengantri untuk membeli Blackberry jenis Bellagio yang didiskon sampai 50%. Bayangkan! Ini yang ngantri adalah orang-orang Jakarta, dari kelas menengah, berpendidikan minimal sarjana, lho; mereka bukan orang miskin yang ndak pernah makan sekolah dengan perut lapar antri beras di jaman Jepang dulu, atau orang di pedesaan antri Bantuan Langsung Tunai.

Yang membuat saya heran adalah kengototan mereka memperoleh gadget itu padahal sudah diumumkan bahwa yang akan mendapat hanya 1000 orang pertama. Lha kalau sudah melihat antrian dimulai sejak petang sebelumnya, apa mereka tidak bisa menalar bahwa orang ke seribu satu pasti sudah tidak akan mendapat bagian? Kenapa mereka masih juga ngotot?

Yang kedua, kenapa juga mereka tergiur dengan gadget itu, yang sebenarnya–menurut seorang pakar teknologi–sebenarnya tidak membawa muatan teknologi yang sangat luar biasa dibandingkan dengan yang sudah mereka punyai? Saandainya Anda sudah punya BB sekelas Curve yang low-end itu, apa iya masih ngotot ngantri, padahal Anda tahu bahwa umumnya harga gadget baru akan turun dengan sendirinya setelah keluar pertama kali, dan BB Curve Anda masih bisa melayani semua kebutuhan Anda?

Kenapa saya bertanya terus? Ya karena saya heran. Apakah tidak ada jawabannnya? Yaah, jangankan saya, para ahli psikologi sosial pun dibikin bingung kok dengan gejala aneh itu. Tapi dari Kompas beberapa hari yang lalu, saya peroleh sekilas jawabannya: gejala massa yang sudah menjadi korban hiper realita, termakan bujukan produsen dan pengiklan yang dengan jitu membuat pencitraan baru lewat simbol-simbol iklannya, dan secara pelan namun pasti membuat manusia modern merasa terbelakang jika tidak melengkapi dirinya dengan atribut-atribut sarat dengan pencitraan palsu itu. Sederhananya begini: jika Anda seseorang yang merasa bahwa sudah saatnya Anda harus mengetatkan ikat pinggang supaya bisa membeli iPad, padahal setelah beli dengan susah payah Anda hanya menggunakannya untuk mengirim e-mail, tapi toh Anda merasa bahwa barang itu sudah membuat diri Anda menjadi manusia seutuhnya, nah, ya itu dah, Anda adalah satu dari sekian juta manusia yang sukses menjalani proses cuci otak hiper realita itu.

Posted in: Uncategorized