Sakit dan Manja dan Sibuk

Posted on December 7, 2011

0


Kemarin saya sakit. Damned! Seseorang sampai bertanya: “kok bisa sakit too? Bisa sakit juga tah?”. Jiambu, saya ini ya manusia biasa, ya pasti bisa sakit juga lah, walaupun saya benar-benar tidak terima kenapa harus sakit. Grrr! Ndak enak lho, berbaring diam di rumah sementara saya tahu para Ma Chungers lain sedang berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan eksistensi universitas ini. Hmm,. . . . udah sakit, lebay pula saya ini. Bah!

Kalau sakit, bawaannya saya jadi manja sekali. Manja disini bukan singkatan “macho tapi ja-im” atau “macho tapi jahat” atau “macho tapi jablay”, tapi ya manja se manja-manjanya. Istri saya baru pulang dari mengajar sudah saya peluk dan saya minta ditemani di tempat tidur. Habis itu maunya diladeni mulai dari makan sampai dipijat. Wees, nggilani pol pokoke, ha ha ha! Tapi ya, kapan lagi bisa manja kalau nggak sakit gini? Sial dah.

Nah, setelah agak sembuh hari ini giliran istri saya minta ditemani makan di kantin. O alah, kalau udah di kantor mood saya lain. Maunya tancap gas terus kerja ndak brenti. Lha wong di kantin aja kok minta ditemani? Tapi ya deh, ndak papa. Saya turun dari kantor meninggalkan urusan yang sedang berkecamuk di PC dan di meja saya, menemani istri saya makan di kantin sampai setengah jam. Dia makan tahu campur dan saya ngeteh dingin.

Kayaknya ndak ada nih pasangan dosen semesra kami berdua. Saya tahu ada beberapa pasangan suami istri juga di kampus ini, tapi yang makan di kantin berduaan kok ya hanya kami saja. Mungkin mereka-mereka yang lain cukup baik menjaga privacynya; atau mungkin ya sudah ndak terasa gregetnya makan berduaan sama istri atau suaminya yang sama-sama dosen atau staf. Saya sih senang-senang aja, hanya kalau setelah beberapa lama dan makin banyak mahasiswa yang melihat kami, rasanya saya jadi ndak kerasan dan ingin segera kembali ke kantor. Kenapa? Ya ndak tau, ya ndak nyaman aja.

Hmm, kembali ke sakit yang ge-je tadi (ge-je karena gejalanya aneh: tau-tau kembung, terus panas, terus pusing), saya ingat malam sebelum saya sakit itu saya ngomong gini ke istri saya: “Hmm, tahun depan aku dah 45. Harapan hidupku tinggal 35 sampai 40 tahun lagi. Hmm, kepingin cepat mati biar bisa segera masuk surga!” Entah kuwalat entah gimana, mungkin ada setan yang mendengarkan guyonan saya yang keterlaluan itu dan langsung membuat saya sakit pas tengah malam. Careful what you wish for, kata orang bijak.

Iya, deh, makanya hari ini saya pasang status FB saya yang sebenarnya adalah doa: “I am healed! Thank you Jesus!”.

Posted in: Uncategorized