K-Pop Demam Budaya Korea

Posted on December 6, 2011

0


K-Pop. Seluruh dunia sedang dilanda demam K-Pop. Hidup Koreaaa! Sementara negara kita jualan TKI gratis (bahkan sampai gratis dianiaya), Korea jualan sinetron dan boys band dan sukses menangguk untung berupa mengalirnya devisa ke negaranya dan semakin populernya budaya mereka.

Tapi, tunggu sebentar, apa benar K-pop adalah budaya Korea?

Saya mengadakan debat kecil di kelas saya di Sastra Inggris. Topiknya sederhana: K-pop akan menghancurkan budaya asli Indonesia, oleh karena itu perlu ada tindakan tegas untuk melarang stasiun TV menyiarkan acara Korea. Setuju atau tidak?

Ada yang mengatakan: “ndak usah over reaktif lah. K-pop itu seperti kacang goreng, alias hari ini hangat, besok juga udah dingin dan hilang gurihnya. Dulu budaya Jepang juga banyak melanda dunia, lama-lama ya pudar sendiri. Nanti K-pop pun juga demikian. Nggak usah dilarang-dilarang, ntar juga hilang dewe.”

Temannya yang lain membela K-pop: “begitu banyak yang bisa kita pelajari dari K-pop. Kita bisa belajar banyak dari penampilan mereka. Mereka selalu membawa warna dan ragam yang baru.”

Beberapa teman yang lain menyatakan keprihatinannya: “Iya, K-pop itu akan membuat generasi muda tidak lagi mengenal budaya bangsanya sendiri. Memang benar, kita harus membatasi peredaran budaya Korea di kalangan generasi muda kita.”

Saya menimpali: “Apa yang saya lihat adalah lagu dan gaya tari yang tidak jauh beda dengan orang-orang di Amerika, Eropa atau berbagai belahan dunia lainnya. Lagunya pun khas Barat, tidak ada nuansa Korea nya sama sekali. Plot cerita sinetronnya pun juga tidak khas Korea. Plot serupa itu banyak bisa dijumpai di sinetron Hong Kong, bahkan sinetron-sinetron kita. Lantas apa yang baru? Dan sudahkah kalian tahu bahwa ada beberapa artis Korea yang bunuh diri karena tidak tahan tekanan di dunia showbiz? Kalau mau belajar budaya Korea, kenapa ndak belajar etos kerjanya, masa lalunya, sejarahnya sehingga menjadi bangsa unggul di dunia, dan bukan hanya musik popnya?”

Mahasiswi saya yang tadi membela K-pop langsung cemberut. Mau mendebat balik dia mungkin sungkan; atau mungkin memang terpaksa menyetujui apa yang saya katakan.

Karena suasana jadi dingin, saya berusaha menghangatkan suasana dengan bercerita: “Anak saya tuh kelas 1 SMA, juga tergila-gila sama K-pop. Suatu ketika, saya dan dia nonton TV yang menayangkan salah satu boy band terkenal, menyanyikan lagu “Mr. Simple”. Saya tanya kepada anak ABG saya: “INi lagu apa seh??? Katanya kamu suka Korea, tapi ini bukan Korea, ini tarian dan lagu a la Barat, bla bla blaaa. . .”

Jawab anak saya: “Sudah, sudah, Papa pergi aja dari sini. Papa kalau ndak tahu Korea ndak usah cerewet.”

Mahasiswa-mahasiswi saya terbahak-bahak mendengar cerita itu.

Hmm, 2 AM, 2 PM, Big Bang, Super Junior, Seung Ri, . . . . nah, kan, celaka ndak? Ternyata saya diam-diam mulai hapal lagu-lagu dan grup kesukaan anak saya yang setiap hari jam 4 sore memasang TV dengan volume pol untuk mendengarkan lagu-lagu Korea kesayangannya.

Sarangheee, Koreaaaaaa!

Posted in: Uncategorized