Tentang Pakaian Mahasiswi

Posted on December 2, 2011

0


Gilee, insom lagi deh gue. . . .

Hari ini, well. . . kemarin, maksudnya (karena waktu saya nulis ini sudah jam 1 pagi) , sebenarnya hari yang sangat menyenangkan. Artikel saya akhirnya berhasil dimuat di sebuah jurnal internasional bernama Sino US English Teaching. Ada satu momen penting bersejarah, dan puncaknya, di akhir senja saya mendapati ada aliran dana dari lembaga tempat saya bekerja. Oh, ini yang disebut insentif kinerja, batin saya dalam hati. Hmm, nice! Hmm, sejak kapan uang — yang didapat dari hasil kerja keras dan tentunya halal–pernah ndak nice? Ha ha haa! Tapi well, . . . lepas dari masalah uangnya, apresiasi dari lembaga akan hasil kerja saya itu sangat menggembirakan. Siapa sih ndak suka hasil jerih payah dan kontribusi nyatanya dihargai?

Saya mau menulis soal pakaian. Tepatnya: tata tertib cara berpakaian yang wajib di lembaga ini (Susah amat ya mendefinisikan dress code ke dalam bahasa Indonesia?). Mahasiswa dan dosen diharuskan berpakaian rapi, dengan kaos atau baju berkerah, tidak bersandal, dan tidak bercat rambut. Mahasiswa cowok tidak boleh mamakai anting-anting dan/ atau tatoo.

Saya terus terang belum bisa bersikap tegas terhadap peraturan ini. Substansi seseorang, menurut hemat saya, lebih pada sopan santun dan kualitas pikirannya, yang kadang-kadang tidak selaras dengan caranya berpakaian. Ya, contoh ekstremnya anggota DPR yang berjas rapi dilawankan dengan pejuang pembela hak asasi manusia atau pejuang lingkungan lah. Tahu kan maksud saya? Satunya rapi wangi tapi korup, satunya mungkin kucel dan gondrong tapi tulus dan altruistik. Nah, tapi berhubung ini sudah peraturan ya saya harus ikut mendukung penegakannya.

Maka untuk pertama kalinya saya harus tahan mental mengamati cara berpakaian mahasiswa mahasisiwi saya di kelas. Tidak masalah untuk yang mahasiswa, namun ternyata sulit untuk yang mahasiswi. Saya canggung sekali kalau harus mengamati bagian leher mereka dan memastikan apakah baju kaosnya berkerah atau tidak. Pertama, saya takut dikira punya mata jelalatan mengamati leher mahasiswi. Kedua, lha kan modelnya macam-macam pakaian jaman sekarang? Banyak yang akhirnya saya putuskan tanpa kerah. Kenapa? sederhana saja ukurannya. Kalau bajunya berkerah, kenapa saya bisa melihat sebagian besar lehernya dan bahkan kadang-kadang dada bagian atasnya, saking rendahnya bagian leher kaos sialan itu?? Akhirnya saya tegaskan bahwa “kalian disini untuk menjadi disiplin. Salah satu caranya adalah berdisiplin dalam hal pakaian. Mulai minggu depan saya tidak mau lagi melihat masih ada yang memakai baju tanpa kerah. Paham?”

Eh, diluar dugaan, minggu depannya ketika saya masuk lagi ke kelas, saya melihat penampilan mereka—cewek-ceweknya terutama–yang sudah rapi memakai T-shirt berkerah dan bahkan kemeja. Hmm, senang sekali saya melihatnya, dan tanpa sungkan pujian saya pun terlontar: “I like the way you dress today!” ucap saya. “All are wearing shirts with collars. You look smart and decent. I like that!”.

Nah, inilah salah satu contoh bahwa dengan teladan yang pas dan wibawa yang terjaga, semua yang kita katakan akan dituruti tanpa banyak resistensi.

By the way, saya mulai ngantuk lagi nih dan sebaiknya saya tidur dulu. Sampai jumpa di posting mendatang. . . . .

Posted in: Uncategorized