Bertanya

Posted on November 29, 2011

0


Bertanya menjadi hal yang sedikit rumit manakala dipandang sebagai manifestasi kebudayaan, cara pikir, bahkan cara orang berkomunikasi.

Ketika masih di S2, saya pernah diwanti-wanti seorang teman untuk tidak banyak bertanya kepada seorang dosen. “Bapak itu orangnya ndak terima kalau mahasiswanya bertanya. Dia menganggap pertanyaan adalah tantangan atau keraguan akan kepakarannya!”. Wow! Saya pikir, “dosen yang aa-neeeh??”

Seorang rekan S2 ternyata juga demikian. Dia menganggap bahwa pertanyaan di sesi presentasinya adalah satu tantangan, dan kalau ada yang tanya dia cenderung menanggapinya dengan air muka tidak enak dipandang.

Nah, ketika saya kuliah di Wellington, saya pernah menyajikan satu paper saya di hadapan teman-teman sekelas yang sebagian besar adalah orang bule. Entah gimana, kok ndilalah tidak ada pertanyaan sama sekali dari mereka. Sesi itupun berlalu begitu saja. Ternyata, keesokan harinya ketika saya semobil dengan seorang teman bule, dia malah meminta maaf kepada saya. “Maaf ya, kemarin itu kami ndak tanya apapun waktu kamu presentasi. Bukan gimana, tapi kami rasa presentasimu sudah sangat bagus jadi kami ya diam saja.”

Saya agak tercengang. Nah, baru paham saya bahwa di negeri mereka, pertanyaan adalah tanda bahwa audiens merasa tertarik dengan ide-ide Anda. Budaya mereka adalah menghargai setiap penyaji dengan bertanya atau setidaknya berkomentar. Kalau Anda presentasi dan ternyata audiens tidak bertanya apapun, dalam pandangan mereka itu artinya presentasi Anda tidak menarik.

Hmm, jadi disini letak perbedaan budaya antara Asia dan Barat. Satu lagi saya belajar dari sini.

Sekarang pun, sebagai dosen, saya merasa agak gimanaaaa gitu setiap kali berpanjang lebar menerangkan dan bertanya: “Any questions?, mahasiswa-mahasiswa saya diam seribu bahasa. Ada beberapa mahasiswa yang bahkan cepat sekali menggelengkan kepalanya. Buat saya, itu pertanda bahwa dia berpikir begini : “sudahlah, kuliah ini tidak menarik!. Boro-boro mau tanya, mikir aja saya males.”

Bertanya menjadi indikator bahwa Anda berpikir, dan bukan sekedar berpikir, namun berpikir dengan kritis. Pada satu dialog ilmiah, seharusnya orang-orang lebih banyak bertanya dan membahas jawaban-jawabannya dari berbagai sudut pandang, bukannya menerima segala hal sebagai kebenaran absolut. Plato, sang filsuf terkemuka, pernah membiasakan hal ini di kalangan murid-muridnya. Saya pikir, ini kebiasaan yang bagus, sampai kemudian ada bermacam konsep yang mematikan kebiasaan ini: senioritas, dosen-selalu-benar, ego yang besar, dan sebagainya.

Posted in: Uncategorized