Di Balik Rapat-Rapat Itu . . . .

Posted on November 26, 2011

0


Ada beberapa jenis tipe orang dalam mengikuti rapat. Yang diajarkan oleh teori kepribadian adalah dominant, naysayer, dan distractors. Tiga-tiganya ternyata pernah saya alami di lembaga ini.

Mana yang paling menjengkelkan? Ya tiga-tiganya, ha ha haa! Tipe dominan adalah orang yang sangat mendominasi pembicaraan di rapat. Ide berasal dari dia, solusi juga dia yang kasih, plus diperparah dengan omongan panjang lueebaaar yang seringkali membuat orang mblenger (=mau muntah) karena sebenarnya inti pesannya sudah jelas tapi dia ini masih saja bicara banyak. Orang seperti ini sangat menjengkelkan karena dia tidak mau atau jarang sekali memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan buah pikirannya. Saya pernah terang-terangan menolak bergabung dengan suatu tim yang dibentuk oleh sebuah direktorat, semata-mata karena saya tahu orang itu juga bergabung disitu. “Saya tidak suka mendengarkan satu orang berkhotbah panjang lebar sementara yang lain manggut-manggut atau skeptis atau bahkan tidur,” kata saya kepada ibu yang memimpin direktorat itu. Nah, di sebuah rapat persiapan akreditasi, tindakan inti diulang lagi, masih oleh orang yang sama. Pada hari berikutnya, saya sengaja absen. Lho kok? Lha iya toh, lha untuk apa saya datang kalau semua solusi sudah dipikirkan dan didiktekan oleh dia? Mending dia saja yang datang dan menyelesaikan semua urusan review itu seorang diri.

Naysayer. “Nay” berasal dari “no”. Tipe ini hampir selalu mengatakan “tidak setuju” untuk apapun yang sedang diusulkan oleh seseorang di forum rapat. Entah dimana salahnya, kayaknya mereka yang tergolong tipe “naysayer” akan merasa bakal terkena kutukan tujuh turunan kalau sampai harus menyetujui suatu solusi. Ya, saya tahu bahwa di satu sisi itu menunjukkan mereka berpikir lebih kritis dan lebih panjang dari yang lain, sehingga selalu bisa melihat kelemahan atau konsekuensi buruk dari usulan itu di kemudian hari. Tapi kalau dia terus-terusan mengatakan “no”, akhirnya forum rapat pun mentok, berakhir tanpa ada solusi yang jelas. Pada satu titik, solusi harus diambil; perkara nanti dampaknya bagaimana ya itu urusan nanti ditanggulangi bersama.

Distractor. Nah, ini tipe perusak agenda. Orang seperti ini biasanya juga suka bicara, tapi celakanya yang dia omongkan tidak terfokus pada agenda utama rapat. Akibatnya, beberapa peserta lain yang terpancing pun jadi ikut-ikutan nimbrung; buntutnya si pemimpin rapat pun bingung bagaimana harus mengembalikan pembicaraan ke agenda semula ketika rapat benar-benar sudah terbelokkan (distracted) ke urusan lain.

Saya mengalaminya sekitar dua minggu yang lalu. Rapat antara kepala suku (saya salah satunya) dengan Asisten Dewa. Agendanya jelas: mengatur kewenangan antara Asisten Dewa dengan kami para Kepala Suku. Eh, baru juga mulai, sang kepala suku yang tergolong tipe distractor ini buka suara dengan mengeluhkan hal-hal yang sangat teknis dan mendetail sekali. Karena gaya bicaranya merengek tak berkeputusan, susah juga sang Asisten Dewa dan kepala suku lainnya memotong. Dalam hati saya mulai merasa resah, dan berpikir: “Kenapa juga ya kami para kepala suku harus ngurusi tetek-bengek kecil-kecil seperti itu? Kepala suku kan mestinya mikir strategi, pengembangan jangka panjang, pendelegasian wewenang, dan sejenisnya?? Dan kenapa orang ini merengek terus? Bukankah sebagai seorang kepala suku dia mestinya bersikap ‘ saya adalah problem-solver’, bukan ‘part of the problem?’ ”

Karena rengekannya tak kunjung berhenti, akhirnya saya pun memotong: “Sudahlah, untuk urusan sangat teknis administratif seperti ini, kita bentuk satgas, tetapkan semuanya, terus laporkan ke Dewan Agung. Setelah disahkan Dewan Agung, paksa semua anggota mematuhinya. Beres kan?”

Semua terdiam sesaat. Yah, ini pasti karena air muka dan nada saya sudah tidak enak didengar.

“Nah, mari kita kembali ke agenda utama. Tadi kan kita maunya membagi wewenang nih? Nah, gimana kalau kita cermati semua peraturan yang ada, kemudian kita mulai tentukan mana masuk wewenang Assisten Dewa, mana yang masuk wewenang kepala suku.”

Rapat pun kembali ke ‘jalan yang benar’ setelah interupsi saya tadi. . . .

Nah, masih ada satu lagi tipe menjengkelkan ketika rapat. Seperti apa tipe itu? Seperti saya, ha ha haaa! Sensi, pendiam, sangat introspektif tapi juga sangat mudah merasa tidak nyaman atau bahkan tersinggung, dan kalau sudah tidak tahan, maka keluarlah celetukan atau gaya bicara yang tidak enak dilihat. Nah, itu saya bangeet; that is very mee, ha ha haa! Hmm, gimana ini, tahu dirinya lemah kok malah ngakak? Tapi ya itulah; saya hanya mencoba bersikap fair: saya sudah mengkritik habis tipe-tipe tertentu, dan saya kira cukup adil kalau saya juga mengecam diri sendiri karena gaya rapat saya yang over sensitive itu.

Fair enough!

Posted in: Uncategorized