E-mail Yang Aneh . . .

Posted on November 25, 2011

3


Ada kebiasaan yang aneh disini; sederhana sebenarnya, tapi buat yang menghargai ilmu berkomunikasi akan cukup sebagai bahan keprihatinan: masalah komunikasi via e-mail. Sudah beberapa kali saya menengarai e-mail-email dinas yang saya kirimkan ke beberapa kolega tidak berbalas sama sekali. Eh, mbok ya kalau sudah terima mereka bilang : “Baik, terima kasih, akan kami pertimbangkan”, “terima kasih emailnya,” atau sejenisnya. Tapi makin lama yang seperti ini makin jarang, dan akhirnya yang memelihara kebiasaan santun seperti ini hanya satu dua orang.

Saya tidak menuntut e-mail saya harus dibalas segera dengan tindakan yang cepat dan tepat kok. Saya tahu e-mail-email saya itu umumnya menuntut pemikiran dan pertimbangan yang mendalam, ya maklum urusannya setingkat fakultas. Tapi apa sulitnya sih membalas dengan ucapan singkat: “terima kasih, akan kami pertimbangkan”. Kan dengan begitu saya tahu e-mail saya itu sampai atau nyasar, dan apakah sudah dibaca atau belum.

Kasus terakhir adalah ketika mantan rekan sekantor menanyakan apakah seorang pejabat sudah diajak koordinasi untuk persiapan penyajian materi pelatihan kepemimpinan. Saya jawab: “mau koordinasi gimana wong e-mail saya minggu lalu ndak dibalas sama sekali?”.

Saya lihat yang rajin dan responsif membalas e-mail saya dengan etika seperti itu adalah kaprodi baru dari negara tirai bambu itu. Ya maklum, itu karena dia masih baru, atau mungkin budayanya disana sudah mengajarkan dia untuk bersopan-santun seperti itu.

Yah, karena saya pikir budaya komunikasi di lembaga ini memang seperti itu, akhirnya saya pun setuju untuk “melestarikannya”. Sekarang saya mulai ogah membalas e-mail dari beberapa kolega. Biar aja teronggok di inbox saya, kalau sempat ya saya baca lagi kalau ndak ya sudah, sudah nasibnya demikian. . . . Ntar kalau yang empunya merasa sudah terdesak kan akan datang sendiri ke saya untuk meminta perhatian.

Posted in: Uncategorized