Menjadi Kreatif: Kenapa Tidak?

Posted on November 20, 2011

0


Dunia ini adalah milik orang-orang kreatif, orang-orang yang jeli, yang tidak segan berpikir “kenapa tidak?”, kemudian menciptakan sebuah sistem yang akhirnya mendunia dan membuat mereka kaya raya dan terkenal. Lihatlah Sergei Brin dan sohibnya yang kemudian menciptakan Google, atau Zuckerberg yang membuat Facebook, atau almarhum Steve Jobs yang menghadirkan komputer ke meja kerja dan rumah-rumah kita sekarang.

Begitu ciptaan mereka menjadi maha, orang lain hanya bisa menyesali dirinya sambil menepuk-nepuk dahinya, dan berkata: “Why didnt I think of that?” (kenapa ya saya tidak berpikir seperti itu?). Bayangkan, ketika belum ada Google, bukankah sebenarnya peluang membuat sebuah mesin pencari yang super efektif itu terbuka lebar? Dengan sekian juta informasi yang beredar setiap harinya, bukankah akan sangat bagus kalau ada sebuah mesin atau sistem yang bisa menghadirkan informasi yang diminta itu dalam sekejap, hanya dengan beberapa klik mouse atau sentuhan keyboard? Ketika belum ada Facebook atau Friendster, bukankah sebenarnya kebutuhan manusia untuk menampilkan dirinya dan saling berbagai rasa dan ide dengan manusia-manusia lain nun jauh disana sudah ada sejak lama? Kenapa hanya seorang Zuckerberg yang dengan sangat jeli membaca kerinduan sosial ini kemudian mewadahi itu dalam sebuah dunia baru yang bernama Facebook? Kenapa bukan saya, atau Anda sang pembaca tulisan ini?

Saya rasa, harus ada semacam kurikulum untuk menjadikan mahasiswa-mahasiswa kita, atau bahkan murid-murid SMP kita, lebih kreatif. Sebagian dari isi kurikulum ini akan membiarkan mereka berimajinasi seluas-luasnya, tanpa takut batasan undang-undang atau nasehat orang tua yang kadang-kadang terasa sangat membatasi itu. Saya bayangkan, salah satu sesi di pelajarannya adalah menyuruh mereka melamun, atau ngobrol saling bertukar pikiran. Jadi akan akan beberapa murid yang duduk melamun di bawah pohon, ada beberapa yang mencoret-coret kertas untuk membentuk gagasannya, ada yang ngobrol-ngobrol dengan topik “kenapa tidak?”, ada yang mengamati orang-orang yang lalu lalang untuk memperkirakan apa yang mereka butuhkan.

Bicara tentang kebutuhan manusia, kalau kita jeli sebenarnya kita bisa menangkap hal-hal yang manusia lain perlukan. Tahukah Anda apa yang saya perlukan saat ini? Seorang tukang rombeng! Lho?? Iya, saya beberapa minggu ini sedang pusing karena barang-barang bekas yang makin lama makin banyak menumpuk di rumah. Ibu mertua saya hobi sekali menyimpan barang-barang tersebut. Alasannya: “siapa tahu kelak diperlukan.” Nah, beliau tidak mau merombeng barang-barang tersebut kalau harganya tidak pantas, sementara saya tanpa sungkan mengatakan “udah, suruh bawa aja sama tukang rombengnya. Ndak usah dibayar ya ndak papa, pokoknya get those stuff out of my house!”. Karena saya menantu, maka saya harus ngalah, dan akibatnya barang-barang mulai dari popok bayi sampai monitor komputer makin menumpuk di rumah saya.

Saya tentu saja bisa mengangkut barang-barang itu ke tempat loak, atau menyuruh tukang loak yang setiap hari keliling pakai becak itu datang ke rumah saya. Tapi apa nanti orang kata? Masak profesor ngrombeng barang??

Nah, yang saya perlukan adalah seorang tukang rombek intelek, alias memakai kemeja rapi, dan bertampang seperti mahasiswa, kalau perlu lengkap dengan dasi atau setelan blazer (kalau cewek). Mereka bisa datang ke rumah saya, dan memulai langkah yang disebut identifikasi barang layak pakai. Mereka akan mendata satu persatu semua barang layak pakai (baca: bekas tapi masih bisa dipakai) di rumah saya. Lalu, mereka akan masuk ke tahap kedua, yakni menyalurkan barang itu sesuai kategorinya ke pihak-pihak yang bisa memakainya kembali, lengkap dengan harga yang pantas. Mereka bisa mengambil beberapa persen dari harga itu untuk biaya servis mengenali dan menyalurkan barang bekas itu. Keren bukan? Saya tidak perlu khawatir dilihat orang merombeng barang, ibu mertua saya juga senang karena barang-barang bekasnya masih bisa dihargai, tidak dibuang begitu saja, dan para perombeng intelek itu pun senang karena mereka mendapat income. Saya kira banyak orang seperti saya yang memerlukan jasa seperti ini.

Masih banyak kebutuhan yang bisa kita kita baca kalau kita jeli. Di Jepang, beberapa orang seperti ini menangkap kebutuhan dari para manusia usia lanjut untuk merayakan ulang tahunnya bersama dengan anak-anak dan cucunya. Karena anak dan cucunya terlalu sibuk, para manula ini sering kesepian dan merasa hari jadinya lewat begitu saja. Maka datanglah penawar jasa ini menawarkan “anak dan cucu” yang sudah dilatih khusus untuk memeriahkan pesta ulang tahunnya. Bangsa Jepang memang terkenal dengan ide-ide kreatif seperti ini. Ya, kadang-kadang terkesan agak kebablasan juga: mereka pernah menelurkan penelitian menarik sari pati protein dari kotoran manusia untuk didaur ulang menjadi makanan; pernah juga ada layanan bagi para bujangan, berupa boneka seukuran manusia yang bisa dibawa tidur dan dibegitukan . . . Ya, yang kayak gini mah agak ekstrem, tapi inti dari semua posting saya ini sebenarnya adalah: kreativitas manusia, jika diberdayakan, akan menjadi penyumbang kesejahteraan umat manusia. Sekarang terserah bagaimana kita, bangsa yang sedang susah payah menaikkan indeks pembangunan manusianya ini, menyikapinya. Kalau kita mengatakan “ah, aneh-aneh saja!”, “ah, dari dulu juga sudah seperti ini, kenapa harus berubah?”; “ah, itu nyeleneh, melanggar norma”, atau “ah, itu tabu!”, maka memang sudah layak dan sepantasnya kita hanya menjadi pengagum bangsa-bangsa yang jauh lebih kreatif karena mereka tidak segan berpikir dan bertindak: “kenapa tidak?”

Posted in: Uncategorized