Mari Kita Aware untuk Mendevelop Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Posted on November 19, 2011

0


Kesalahan 1: “Sehubungan dengan peringatan Sumpah Pemuda. Kami mengundang saudara sekalian untuk . . .”

Yang benar: “Sehubungan dengan peringatan Sumpah Pemuda, kami mengundang saudara sekalian untuk. . .”

Kesalahan 2: “Program ini disediakan untuk para mahasiswa. Sehingga mereka bisa menambah pengalaman dalam berwirausaha.”

Yang benar: “Program ini disediakan untuk para mahasiswa sehingga mereka bisa menambah pengalaman dalam berwirausaha.”

Kesalahan 3: “Untuk mereka yang masih berada pada tingkat dasar, kelas ini diajar oleh para guru yang sudah berpengalaman, yang mana akan membuat mereka lebih . . .”

Yang benar: “Untuk mereka yang masih berada pada tingkat dasar, kelas ini diajar oleh para guru yang sudah berpengalaman. Kelas ini akan membuat mereka lebih . . .”

Demikianlah, makin lama saya makin sering menjumpai kesalahan berbahasa Indonesia oleh orang-orang Indonesia sendiri. Tidak perduli pejabat, pimpinan, mahasiswa (ini yang paling parah), semua bersatu padu bersumpah secara diam-diam menghancurkan bahasanya sendiri. Yang lebih memuakkan tentunya ketika mereka mencampur bahasa Indonesia itu dengan penggalan-penggalan kata bahasa Inggris. Makin sering saya dengar kata-kata seperti : “men develop, meng approach, marilah kita semua aware, kita harus melakukan effort” dan sebagainya. Benar-benar menyedihkan. Apa pula maksudnya? Malu dengan bahasa mereka sendiri? Atau sok keminter bahasa Inggris? Makanya, kalau salah satu dari mereka sedang berbicara berkoar-koar tentang kebanggaan bangsa, dalam hati saya langsung bilang gini: “Halah, taek Pak!” atau “Taek Bu!”

Kenapa mahasiswa saya katakan paling parah? Coba ambil satu saja karya tulis mereka, dan coba baca. Anda pasti akan dibuat pusing tujuh keliling mendapati kalimat-kalimat sangat panjang berisi ribuan ide yang dijejalkan sehingga tidak ketahuan lagi mana subjek mana predikatnya. Itu masih ditambah dengan anak kalimat menggantung seperti kesalahan 1 dan 2 di atas. Ketika memeriksa salah satu naskah akreditasi dari salah satu prodi, saya menoleh kepada rekan saya yang juga sama-sama bingung, dan berkata: “sebenarnya orang ini nulis apa sih ya??”

Makanya, benar sudah keputusan untuk mendirikan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia di fakultas saya. Nanti akan saya buka program beasiswa 100% untuk semua rakyat Indonesia yang ingin berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Apakah rakyat Indonesia akan berbondong-bondong mendaftar ke prodi tersebut? Pasti tidak. Lho, kenapa? Ya, karena urusan bahasa memang sangat bisa disepelekan. Mereka akan berkata: “bahasa itu, mau tertib, mau ndak, mau gramatikal, mau ndak, tidak life-threatening, tidak pula banyak pengaruhnya terhadap duit, jadi untuk apa pusing-pusing bercermat-cermat dalam berbahasa?”

Ya, ada benarnya. Di masyarakat yang menyembah duit dan ekonomi untuk menggantikan Tuhan, urusan bahasa memang tidak mempengaruhi derasnya modal, tingginya pertumbuhan ekonomi, atau kesehatan jasmani manusia. Kalau ada wabah penyakit, semua akan cemas dan ahli kesehatan langsung laris karena isu kesehatan itu berkaitan erat dengan hidup matinya manusia. Kalau ada gejolak ekonomi dan dunia gonjang-ganjing karena ekonominya menggelepar, ahli keuangan dan pengamat pasar modal akan laris karena uang dan materi itu berkaitan erat dengan kemakmuran (baca: keserakahan) manusia. Tapi kalau ada bahasa kacau seperti di negeri kita ini, ahli bahasa dan jurusan bahasa tetap saja sepi peminat karena bahasa rusak pun–asal ekonomi jalan dan tubuh sehat– tidak mempengaruhi hidup mati manusia dan rekening depositonya di bank.

Bahasa Indonesia sangat mudah dipelajari. Buktinya, CY, seorang lao shi di fakultas saya, bisa menguasai bahasa itu hanya dengan mengikuti kursus 16 kali, plus rajin ngobrol sama mbak dan mas CS, pak Satpam, dan para pengemudi. “Seharusnya bahasaku menjadi bahasa internasional, dan bukan bahasamu,” saya bilang suatu siang. “Tapi itu tidak mungkin,” saya lanjutkan cepat-cepat, “karena bangsaku bukan pemimpin ekonomi dunia, tidak kuat di bidang militer, indeks pembangunan manusianya termasuk yang paling rendah, dan rakyatnya pun dengan suka cita merusak bahasanya sendiri.”

Posted in: Uncategorized