Curhat sang Blogger

Posted on November 18, 2011

0


Pengunjung blog ini secara mencurigakan naik drastis jadi 75 hits hanya dalam waktu sehari kemarin. Dua hari sebelumnya malah bisa sampai 126. Yang lebih mengkhawatirkan, di adminnya saya bisa melihat kata kunci apa yang mengantar mereka ke sini: “machungaiwo”. Itu berarti banyak orang yang mencari blog ini di google setelah mendengar reputasi blog ini dari temannya, kemudian menemukannya, kemudian mengubek-ubek isinya. Tapi well, pikir punya pikir, bukankah memang itu yang seharusnya diimpikan oleh setiap blogger? Ya sudahlah.

Seseorang mengatakan suatu pagi bahwa saya kelihatan seperti baru menangis. Mata saya sembab dan berkantung. Apa iyaa? Masa? Insomnia saya sudah berkurang, dan setelah lama tidak merokok, badan saya juga lebih gemuk, tidak “bungkring” seperti lima enam bulan yang lalu ketika saya masih kecanduan merokok. Tapi kenapa saya seperti berbeban berat?

Yah, saya akui saya memang lelah memikirkan sesuatu beban. Beban apa itu? Saya sendiri juga tidak tahu, . . . atau tidak berani menulisnya di blog ini ya? Hmm…. yang jelas saya lelah . . . bingung . . . . tidak habis mengerti dan kadang-kadang marah kepada diri sendiri. . . .

Tapi, entah karena sudah terbiasa atau memang dikaruniai sedikit talenta, pekerjaan saya di kantor relatif tidak terpengaruh oleh beban itu. Saat ini saya sedang menggarap dua proposal penelitian, merintis jurnal fakultas, dan tetap giat mengincar kesempatan presentasi ke luar negeri untuk seminar, plus menulis naskah buku, plus seabrek pekerjaan sebagai dekan dan dosen. Saya tetap bersemangat mengajar, buktinya hasil evaluasi perkuliahan di ketiga kelas yang saya asuh nilainya sangat tinggi. Beberapa hari yang lalu saya talk show lumayan sukses bersama seorang lao shi. Proyek mengajar di Blitar bersama lao shi yang lain lancar jaya. Tahun ini ELTISI mendapat ijin untuk mengadakan tes HSK, dan kemungkinan akan terus seperti itu. Bukankah semuanya berita positif? Ya, iya memang.

Tapi saya akui saya galau . . .

Saya ingat cerita seorang awak meriam di sebuah perang. Komandannya mengatakan: “arahkan meriam ke gubuk di kaki bukit itu, dan hancurkan!”. Sang serdadu sejenak ragu, tapi kemudian toh membidikkan meriamnya ke gubuk itu, dan menembaknya sampai hancur berkeping-keping. Setelah itu dia menangis. Kenapa? Oh, ternyata di gubuk itu tinggal anak istri dan ibunya yang sudah renta. Sang serdadu itu tetap lah serdadu: dia hanya menjalankan perintah komandannya. Suruh tembak ya tembak.

Hmm, kenapa saya jadi merasa seperti serdadu itu? Bedanya, dia tidak punya waktu berpikir, sementara saya punya waktu sangat lama untuk berpikir dan merenung. Akibatnya ya tambah terasa berat. Hmm, sekilas muncul ide gila saya: saya akan menembak mati komandan saya saja, toh hanya kami berdua disini, tidak ada yang tahu dia mati di tangan siapa.

Tapi well, . . . lupakan saja kisah serdadu yang malang itu. Life goes on. Sekarang sudah penghujung 2011. Bagaimana hidup akan ditata lagi di tahun 2012? Kesibukan di kantor sangat padat; jam 8 pagi sampai jam 5 nyaris tidak menyisakan waktu untuk berpikir yang lain kecuali mengembangkan lembaga ini.

Karena ini adalah curhat, maka memang tidak ada penutupnya. Ya sudah, biarkan saja menggantung disini . . .

Posted in: Uncategorized