Cincin Itu

Posted on November 8, 2011

2


Cincin itu sederhana. Terbuat dari emas murni 24 karat, tapi tidak terlalu tebal. Di lingkaran dalamnya terukir nama indah yang akan saya bawa sampai mati: Susan. Itu nama istri saya. Cincin itu adalah cincin kawin kami. Ketika bertunangan tahun 1994, saya mengenakannya di jari manis tangan kiri. Begitu menikah, saya pindah ke jari manis tangan kanan, sampai sekarang.

Sekilas hanya cincin. Namun ternyata itu merupakan penanda tersendiri yang di mata orang lain bisa menimbulkan reaksi yang tidak pernah saya duga. Setahun setelah menikah, saya mengajar di sebuah PTS di Surabaya. Pada akhir semester, saya berkesempatan ngobrol-ngobrol santai dengan beberapa mahasiswi. Salah satunya mengatakan dengan terus terang bahwa dulu teman-temannya agak heboh ketika saya masuk kelas pertama kali. Dia bilang, “teman-teman senang ada dosen masih muda yang keren. Tapi begitu melihat jari manis tangan kanan Bapak, mereka langsung batal senangnya, ha ha haa!”.

Oh, begitu? Saya agak terhenyak. Kok sempat-sempatnya ya melihat jari manis dosennya?

Cincin itu dibuat begitu, melingkar, tak ketahuan mana ujung mana pangkalnya. Itu perlambang cinta abadi antara sepasang suami istri. Melingkar tanpa putus.

Suatu ketika, saya sudah sampai di kantor ketika merasa ada sesuatu yang kurang. Saya periksa semua anggota tubuh saya: hidung, kepala, kaki, perut, masih lengkap. Apaaa yaaa? Ah, ternyata baru saya tahu cincin kawin saya tidak ada di jari manis tangan kanan saya! Kontan saya panik! Kemana tuh cincin?? Jatuh? Saya sampai kembali ke mobil, mengubek-ubek jok depan dan lantai mobil, berharap menemukan cincin itu. Nihil.

Seharian saya tidak tenang di kantor.

Ketika pulang malam harinya, saya cari di semua tempat sampai ke bak mandi. Tak nongol juga cincin sialan itu. Akhirnya, setengah putus asa, saya berbaring merebahkan diri di tempat tidur. Ada sesuatu di bawah punggung saya. Saya lihat, . . . . astagaaa, cincin itu tergolek disana, rupanya bergulir jatuh waktu saya melakukan sesuatu di tempat tidur itu. Tapi ah, . . . . masa iya saya kemarin malam bercinta sampai sedemikian dahsyatnya sampai cincinnya lepas dari jari saya? Saya tanya istri saya dan dia hanya tertawa. Okelah, tidak mengapa, saya lega cincin itu sudah saya temukan kembali.

Saya bukan pengoleksi cincin. Tapi akhir-akhir ini saya merasa tertarik dengan cincin-cincin yang dikenakan beberapa orang di tempat kerja saya. Ada yang polos biasa, mungkin emas putih yang mahal itu; ada yang berwarna keemasan, biasanya milik mereka yang sudah menikah. Ada juga yang bermata. Semakin besar matanya semakin saya tertarik untuk mengetahui mengapa mereka mengenakan cincin dengan mata sebesar itu. Kurang percaya diri? Ataukah mata cincin itu dipercaya menimbulkan kharisma tertentu? Atau supaya dianggap berwibawa? Ataukah sekedar kepingin kelihatan nyentrik saja?

Saya belum pernah melihat ada yang mengenakan cincin di kelingkingnya. Konon itu pertanda bahwa dia gay atau hombreng. Masa iya sih? Ah, ndak tau juga lah.

Tapi klimaks dari posting ini adalah ketika saya baru mendapati bahwa istri saya ternyata telah melepas cincinnya! “Lho, kok kamu lepas??” saya bertanya, setengahnya kaget, setengahnya protes. Dia menjawab bahwa cincin kan hanya perlambang, yang lebih penting kan bukti nyata bahwa dia tetap mencintai saya.

Hmmmm. . . .

Posted in: Uncategorized