Mengungkapkan Rasa Sayang

Posted on November 6, 2011

0


Seseorang bertanya: bagaimana saya harus menunjukkan rasa sayang pada seseorang?

Memberi. Ya, bagus, memberi itu menyenangkan. Sesederhana apapun barang yang diberikan, kita yang menerimanya pasti senang. Memberi barang, baju, perhiasan, uang, atau coklat, CD musik, kue-kue, menunjukkan bahwa kita sayang, atau setidaknya mempunyai perhatian kepada orang yang kita beri. Ketika SMA, saya pernah menerima pemberian berupa kertas putih yang bergambar pemandangan, dari crayon. Di bawahnya tertulis: “Mas Atis, selamat ulang tahun. Terima kasih sudah mengajar bahasa Inggris buat saya.” Sederhana sekali. Namun saya sangat terkesan menerimanya. Pemberian itu dari seorang anak kelas 3 SD yang kebetulan sempat saya ajari bahasa Inggris di asrama penampungan anak-anak yatim piatu yang cacat. Sayang, hanya 3 bulan setelah saya menerima pemberian itu, saya dengar dia akhirnya meninggal karena sakit yang dideritanya sejak kecil . . .

Namun ada orang yang mengira bahwa mengungkapkan rasa sayang adalah lewat memberi barang konkret, yang bisa dipegang, dipakai, dimainkan, atau dimakan. Mereka bahkan tidak mengira bahwa pemberian tidak selalu harus berupa barang konkret. Pujian atau ucapan selamat yang disampaikan dengan tulus dan sepenuh hati pun bisa dengan mudah menunjukkan kepada seseorang bahwa kita sayang padanya.

Saya yakin bahwa kebiasaan itu tumbuh dan dipupuk di keluarga. Seorang anak yang menerima pujian dari orang tuanya atas prestasinya di sekolah atau pada event lomba akan belajar bahwa pujian adalah penyemangat, pelepas dahaga akan perhatian dan pengakuan—yang saya yakin semua manusia memerlukannya—dan penanda jelas bahwa dia disayang dan diperhatikan. Bahkan untuk prestasi sekecil apapun, di rumah saya dan istri membiasakan diri untuk selalu memuji anak-anak kami. Anak sulung saya sedang suka-sukanya menulis cerpen di Facebook. Untuk yang inipun, saya senantiasa menyempatkan untuk membaca cerpennya, dan memberikan sedikit komentar bernada pujian atau saran.

Sekarang ayo kita bayangkan Anda bersusah payah membuat sesuatu, lalu akhirnya berhasil. Setelah selesai, ternyata semua orang di sekeliling Anda diam seribu bahasa, tidak memberikan komentar apapun, apalagi memuji. Yah, mungkin Anda biasa-biasa juga, tapi jauh dalam hati kecil Anda akan merasa diabaikan; jangankan disayang, diperhatikan saja tidak. Kalau Anda punya seorang kekasih seperti itu, mungkin Anda pertama kali mencoba memaafkannya, sebelum lama-lama Anda dengan diam-diam atau secara terbuka mencari perhatian dari orang lain yang lebih ekspresif dan apresiatif terhadap prestasti-prestasi Anda. Kebutuhan untuk diperhatikan dan dipuji lewat ungkapan verbal itu manusiawi sekali kok, ndak usah didebat atau disangkal-sangkal.

Ketika saya dikukuhkan sebagai profesor, saya sedemikian sibuk menyambut ucapan selamat dari mana-mana, sampai saya lupa ada sesuatu yang sebenarnya saya rindukan. Perhatian itu datang dari dia ketika menjelang tidur. Sambil mengecup pipi saya, dia mengucapkan: “Wah, kita sibuk sekali seharian sampai aku belum menyampaikan selamat untuk suamiku. Selamat ya, sayang, kamu sudah profesor sekarang.”

That was s-w-e-e-t . . .

Posted in: Uncategorized