Belajar dari Orca, Si Paus Pembunuh

Posted on October 24, 2011

0


Insomnia saya kemarin ditemani oleh siaran dari National Geographic tentang Orca, paus pembunuh yang punya akseosri mata lucu itu. Para ilmuwan yang tekun mengikuti tingkah laku hewan itu menyimpulkan bahwa paus ini bukan hanya cerdas, kuat dan cepat tapi juga sangat kompak.

Cara seekor Orca menyergap anak anjing laut yang sedang bermain-main ditepi pantai menunjukkan betapa kuat dan penuh perhitungan paus ini. Begitu dia menyergap dan berhasil menggondol mangsanya, dia harus segera mengembalikan badannya yang besar itu ke laut kembali. Bayangkan, tanpa tangan dan kaki, betapa sulitnya tindakan ini. Namun, sang Orca ternyata juga sudah memperhitungkan kekuatan dan frekuensi gelombang yang menghantam pantai. Dengan setengah melenting-lentingkan tubuhnya, dia memanfaatkan arus balik gelombang itu untuk membawanya kembali ke laut.

Sampai ditengah, apakah mangsa itu disantapnya sendiri? Ternyata tidak. Makanan itu dibaginya dengan keluarganya; kalau dia seekor betina, maka anak-anak, bahkan sahabatnya pun akan kebagian makanan tersebut. Hebat ya?

Ternyata, menurut para ahli itu, Orca juga punya bahasa sendiri tergantung daerahnya. Orca New Zealand akan mengeluarkan lengkingan yang lain dengan Orca Antarctica, dan Orca dari Kanada juga akan mengeluarkan suara khas yang berbeda dari spesies lainnya dari daerah lainnya. Kalau ada Orca di pantai Selatan Kabupaten Malang, mungkin kalau lengkingan Orca umumnya adalah “weeeeiiikkk”, mereka akan mengeluarkan suara “kkkiieeewww”. Kenapa? Lho iya, kan Malang terkenal dengan bahasa walikan, jadi orcanya pun melengking secara terbalik, ha ha haaaa!

Nah, tindakan memangsa yang menunjukkan betapa kompaknya mereka adalah ketika memburu seekor ikan pari. Ikan pari terkenal lincah dan sabetan ekornya bisa sangat mematikan, bahkan untuk seekor orca yang jauh lebih besar. Padahal, ikan pari termasuk dalam daftar menu favorit si orca. Nah, apa akal? Si orca akan memanggil tiga atau empat ekor sohibnya untuk mengejar si pari, menekannya sampai si pari harus berenang jauh di dekat dasar laut. Begitu si pari merayap di dasar, akankah si orca mengeroyoknya? Kalau mengeroyok, bagaimana kalau si pari menyabetkan ekor mautnya itu?

Ternyata tidak, saudara-saudara. Lihatlah, sementara beberapa orca berenang agak jauh di atas si pari, seekor orca berenang dari belakangnya dengan diam-diam. Makin dekat,makin dekat, makin dekat ke ekor si pari yang tidak tahu ada musuh di belakangnya itu, lalu . . . . . happ! Secepat kilat sang orca menangkap ekor si pari dengan mulutnya, dan langsung mengguncang-guncangkannya sambil berenang dengan cepat ke atas. Di atas, teman-teman sang orca langsung melumat kepala si pari sialan itu dan dimulailah pesta pora mereka bersantap ikan pari.

Hebat, hebat, taktik yang luar biasa untuk seekor ikan yang kita kira adalah binatang bodoh. Si orca seolah tahu bahwa ekor ikan pari hanya mematikan kalau disabetkan; maka, sebelum sempat disabetkan, ditangkapnya ekor tersebut sehingga tidak sempat menyabet. Nah, kekompakannya terlihat ketika teman-temannya datang membantu dengan melumat kepala sang pari sehingga tidak sempat lagi melawan lebih jauh.

Bukan hanya kekuatan fisik, tapi juga kecepatan, kecerdasan, koordinasi, dan kekompakan. Itu yang saya pelajari dari paus pembunuh ini. O ya, satu lagi yang tak kalah pentingnya: having fun. Setelah puas berburu dan kenyang, beberapa orca terlihat berenang dengan santai, sesekali melompat dan menggoda teman-temannya, seolah-olah berkata: “Great day, guys! Now let’s have some fun!”

Posted in: Uncategorized