Mendengarkan Wanita

Posted on October 21, 2011

2


Mendengarkan seorang wanita yang sedang menumpahkan perasaannya atau sekedar bercerita perlu seni tersendiri. Ini tidak sama dengan mendengarkan seorang rekan pria yang juga sedang curhat. Pertamanya, saya melakukannya dengan cara yang sama: baca lagi deh posting saya yang “Mendengarkan Curhat”. Nah, disitu kan intinya saya mengatakan bahwa ada tahap dimana saya harus berpikir logis dan bisa menjawab semua curhat itu dengan kata-kata yang masuk nalar. Nah, ternyata untuk seorang wanita, hal ini ndak terlalu perlu. Jauh lebih penting dari bernalar adalah mempunyai empati dan kesabaran tingkat tinggi untuk bisa dengan penuh perhatian mendengarkan apa yang dikeluhkannya. Makanya, sekarang saya tahu mengapa omongan seorang wanita yang sedang seru-serunya curhat seperti tidak nyambung dengan komentar atau kalimat-kalimat yang saya utarakan. Ini karena nampaknya dia sedang memerlukan untuk didengarkan, bukan untuk diberi saran atau diajak bernalar.

Sekilas mudah, tapi nyatanya jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bayangkan Anda (seorang pria nih) harus menyetir mobil sambil dengan penuh perhatian mendengarkan curhatan istri Anda tentang harga beras yang naik, atau tetangga yang menyebalkan, atau pembantu yang suka nyolong, atau temannya yang genit. Sekedar ungkapan “he-em”, atau “hmm”, atau “Oh, gitu ya? Ck ck ck!” itu sudah menunjukkan bahwa Anda sedang mendengarkan dia bercurhat. Ndak perlu dah melontarkan ungkapan-ungkapan bijak dan logis khas pria (memangnya hanya pria yang bisa mikir logis ya? Kayaknya demikian, ha haha!), udah didengarkan saja dengan penuh atensi, si wanita sudah merasa lega.

Nah, demikianlah apa yang saya alami kemarin. Seorang wanita curhat tentang tingkah laku pacarnya. Karena sudah terlatih, saya tidak menyelanya atau mengisi setiap jeda dengan omongan atau khotbah saya sendiri. Saya biarkan saja dia mengalir, bercerita kesana kemari mulai dari awal ketemu sampai sekarang di ambang putus; saya biarkan air matanya mengalir ketika dia merasa sangat emosional. Saya hanya melihat wajahnya sambil sesekali mengangguk atau berkomentar kecil untuk menandakan bahwa saya sedang mendengarkannya. Nah, barulah ketika dia bertanya: “menurut Bapak, saya harus bagaimana?”, barulah saya mengutarakan apa yang saya pikirkan dengan pendekatan sistematis dan logis: “sekarang kondisinya demikian, kamu maunya begini, dia mungkin maunya begitu; sekarang kamu pilih, jalan ini, atau jalan itu; kalau jalan ini, konsekuensinya adalah ini, ini, dan ini; kalau jalan itu, konsekuensinya adalah itu, itu, dan itu.”

Dia kelihatan senang dan lega setelah curhat. “Terima kasih, sudah mendengarkan dan memberi saran,” katanya sambil pamitan.

Hari itu saya beri nilai A untuk kemampuan diri saya sendiri mendengarkan seorang wanita.

Posted in: Uncategorized