Kenapa Mentoring

Posted on October 18, 2011

0


Saya berpikir tentang mentoring. Kenapa saya cenderung menyukainya? Saya bahkan tidak begitu perduli saya dibayar atau tidak menjadi mentor. Kenapa juga mentee-mentee saya selalu bersemangat begitu ada sesi mentoring?

Ternyata jawabannya sederhana: karena kita semua memerlukan katarsis. Katarsis artinya pelepasan dari emosi yang dipendam; emosi harus dipendam karena kalau tidak, kita bisa dianggap cengeng, atau emosional. Nah, sesi mentoring adalah sesi mengeluarkan uneg-uneg tersebut dan mendengarkan dari orang lain uneg-uneg mereka. Dari saling cerita, terjadilah saling sumbang pikiran. Semua diselingi gelak tawa dan guyon, tapi tetap serius membahas. Perasaan mengemuka, tidak ada lagi topeng sok dosen atau sok guru besar atau sok mahasiswa teladan.

Ini tidak akan kita jumpai dalam transaksi percakapan sehari-hari pada jam kerja. Coba ingat-ingat, interaksi macam apa yang kalian lakukan ketika bertemu dengan staf atau rekan kerja atau dosen? Sangat transaksional, bukan? Pasti berkisar pada : “ini ide saya, idemu seperti apa. Ini peraturannya, kamu harus taat. Kalau tidak taat, ini sanksinya; ini program kerja kita; ini materi kuliah kita; kamu sudah belajar atau belum. Nilai saya berapa?”. Begitu-begitu saja bukan? Sangat kering, sangat straight to the point, nyaris tidak ada ruang untuk mengungkapkan rasa, berbagai perasaan, apalagi mendengarkan dengan empati. Garing. Kering. Lugas. Datar.

Nah, beda sekali dengan sesi mentoring. Pernah gak lihat film di TV yang ada konselor di tengah, dikelilingi oleh beberapa belas orang dewasa yang kemudian menceritakan satu demi satu masalahnya? Setelah satu selesai bercerita (kadang sampai nangis), yang lainnya menghibur dan menguatkan. Sesi mentoring saya persis kayak gitu, cuma tidak ada nangisnya; yang ada hanya tertawa ngakak karena ada yang melucu.

Selesai mentoring, baik mentor maupun menteenya sama-sama lega, seperti seolah-olah baru saja melepas beban. Lalu semua kembali ke rutinitas, tapi dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.

Adakah temu hati seperti itu untuk karyawan? Untuk dosen? Untuk staf dan pimpinan? Mungkin tidak ada, mungkin juga tidak pernah akan ada. Mungkin pimpinan beranggapan, apalah gunanya seperti itu, kan di rumah juga bisa dilakukan.

Tidak masalah buat saya, karena saya sendiri sudah menemukannya di kelompok mentoring yang saya asuh setiap dua minggu sekali.

Posted in: Uncategorized