Visi Otak Udang

Posted on October 16, 2011

0


Seorang pemimpin yang mengaku sebagai visioner harus bisa menghargai anak buahnya yang bekerja keras mewujudkan visinya, sebab tanpa mereka, visinya hanya tinggal mimpi siang bolong.

Pikir-pikir, enak juga pemimpin yang sudah melabeli dirinya sebagai “visioner”. Dia tinggal mengatakan: “saya punya visi membangun sebuah toko paling ternama di jagad maya,” atau “saya punya mimpi membangun sebuah lembaga pendidikan yang menciptakan manusia-manusia super”, atau apalah yang muluk-muluk. Lalu rekan-rekan dan orang-orangnya memuji-muji dia, mengatakan dirinya sebagai seseorang yang visioner. Lalu ketika tiba saatnya bekerja mewujudkan visinya, dia tinggal memberi instruksi kesana-kemari, sementara anak buahnya keponthal-ponthal bekerja keras mewujudkan visi itu. Hmm, setelah lembaga atau visi itu akhirnya tercapai, kembali semua orang mengelu-elukan dan memuji-muji sang pemimpin tadi, dan dengan kagum mengatakan: “Dia memang seorang visioner hebat!”. Hmm, lha kok manis yaa?

Saya cenderung agak skeptis terhadap visi yang menurut saya terlalu muluk. Buat saya, jauh lebih penting adalah bagaimana visi itu dibangun, dan, yang lebih penting lagi, bagaimana visi itu diwujudkan secara bersama-sama baik oleh the so-called pemimpin maupun anak buahnya.

Itu sebabnya salah satu status saya di FB berbunyi begini: “Visi yang baik tidak diciptakan dalam hitungan jam. Visi yang baik adalah hasil tempaan pengalaman dan pengamatan yang cermat terhadap apa yang ada kini untuk menetapkan cita-cita apa yang mau digapai nanti”.
Kalau visi hanya dibuat dalam beberapa jam, apalagi kalau yang membuat hanya satu orang, maka jadilah visi itu visi yang buruk. Visi yang buruk melahirkan lembaga otak udang. Tau udang kan? Udang itu adalah binatang yang antara kepala dan anggota badannya tidak mempunyai garis koordinasi yang berfungsi baik. Jadi kalau kepalanya bilang “maju!”, bisa saja badannya malah bergerak mundur, dan sebaliknya. Parah kan? Nah, lembaga otak udang juga seperti itu. Karena visinya hanya dibuat dan ditentukan oleh satu orang, bukan merupakan hasil tempaan dari banyak pihak yang pada akhirnya terlibat bersama-sama, maka ketika sang pemimpin bilang “Mari kita lakukan lompatan ke bulan!”, anak buahnya malah sibuk main kartu, atau buka toko online, atau cari kerja di tempat lain.

Visi adalah visi. Sekali terucap, jadilah. Halah! Siapa bilang? Visi itu harus sangat terbuka terhadap koreksi. Kalau ternyata terlalu lancip (ini istilah saya waktu kuliah dulu untuk menyebut cita-cita yang terlalu muluk), ya harus dibuat lebih sesuai dengan realita dan kondisi. Kalau ndak, ya jadilah lembaga otak udang tadi itu. Makanya, tidak salah kalau salah satu masukan waktu akreditasi beberapa bulan yang lalu adalah: “visi Anda ini mau dicapai dalam jangka waktu berapa tahun?”.

Jadi memang ndak mudah ya bikin visi. Ya memang, kalau mudah mah namanya hanya mimpi.

Posted in: Uncategorized