Wanita Ingin Bebas di Dunia yang Gila

Posted on October 8, 2011

0


Saya bisa hidup tanpa rokok. Saya bisa hidup tanpa fesbuk. Saya bisa hidup tanpa gadget. Tapi saya tidak bisa hidup tanpa wanita.

Sederhana, bukan?

Kepada seorang mentee yang ibunya telah berpulang, saya tanya: “Papa bagaimana? Sudah empat bulan tanpa Mama?”. Dia menjawab: “Baik-baik saja”.

“Kalau saya jadi Papamu, saya akan mati juga,” jawab saya. “Saya tidak bisa hidup tanpa wanita.”

“O ya ndak bisa gitu dong, Pak,” dia jawab. “Lha nanti anak-anaknya gimana kalau Papanya ndak kuat?”

Ya benar juga ya. Ah, goblok sekali saya ini.

Tapi saya tetap saja sulit membayangkan bagaimana harus kuat menjadi seorang pria yang ditinggal meninggal istrinya. Tidak terbayangkan bed sebesar itu lalu menjadi kosong, hanya saya tergolek sendirian di atasnya. Tidak terbayangkan siapa yang mau saya ajak curhat, ngomel ngalor-ngidul tentang masalah pekerjaan, atau sekedar mendengarkan celotehnya tentang hal-hal sepele namun sudah menjadi bumbu tak terpisahkan dalam keseharian saya. Not to mention the intimacy on the love making . . .

Ah, ngapain juga membayangkan hal-hal muram seperti itu. Mending nulis tentang musik. Sepanjang petang, saya ngobrol tentang musik dengan sang mentee itu. Kami membahas lagu “Mad World”. Ternyata baru ketahuan saya suka yang versi aslinya dari Tears for Fears, sementara dia suka yang versi Gary Jules yang jauh lebih slow. “Jadi sedih,” katanya. Saya heran. Memang kenapa kok sedih? Setelah saya download versi itu dari Youtube, saya jadi maklum. Lagu yang aslinya berirama techno-pop a la 80 an itu digubah ulang menjadi lagu slow. Karena slow, liriknya yang memang sudah bitter menjadi makin nglangut dan menyayat. Ya pantas, untuk orang-orang tipe saya dan mentee saya itu, pantaslah kalau lagu seperti itu bisa membuat perasaan jadi getir . . . .

Satu hal yang saya takjub dari video klip lagu itu: adegan anak-anak bermain-main di halaman sekolah dekat jalan raya, membentuk gambar-gambar yang dilihat dari ketinggian sekian puluh meter. Pas sekali dengan suasana lagunya yang didominasi dentingan piano dengan tempo pelan. Surealis, setengah alam mimpi, dan itu tadi: menyayat.

Setelah mengantar sang mentee tidur dengan ucapan selamat tidur, gantian sang kolega –Lao Shi of the Year– yang datang lewat BB messengernya. Dia kirimkan satu lirik lagu lengkap, judulnya “I Wanna Be Free”. Yang nyanyi band namanya konyol: The Monkees. Liriknya sweet banget.

Sekali lagi saya cari lagu itu di Youtube. Nah, benar dugaan saya; yang nyanyi adalah band jadul tahun 60 an, dengan jenis musik dan lirik yang jadul pula. Saya tersenyum kecil. Ya, lirik lagu itu memang menggambarkan dunia yang masih relatif aman dan gemah ripah loh jinawi dan gaya hidup yang tidak serumit sekarang. Saya bandingkan kedua lagu itu: Mad World dan I Wanna Be Free. Yang satunya sendu, surealis, menyayat, yang satunya riang gembira kayak lagu taman kanak-kanak.

Posted in: Uncategorized