Steve Jobs dan Kita

Posted on October 8, 2011

0


Steve Jobs, pendiri Apple, meninggal dunia dua hari yang lalu pada usia 56 tahun karena kanker pankreas.

Saya termasuk salah satu pengagum orang ini, sekalipun dunianya jauh berbeda dengan dunia saya. Saya masih ingat membaca edisi Newsweek tahun 1985, yang memberitakan bahwa dia dipecat dari Apple pada usia 30 an tahun karena visinya tidak lagi selaras dengan CEO nya. Hebatnya, dia tidak pernah kehilangan semangat untuk terus berkarya. Dia hanya goyah sesaat, tapi kemudian bangkit lagi dan mendirikan perusahaan-perusahaan baru di perkawinan bidang komputer dan film animasi. Yang luar biasa, Apple kemudian memanggilnya kembali dan mengangkatnya sebagai CEO. Lalu lahirlah karya-karyanya yang brilyan: iPhone, iPad, . . . .

Orang ini mencengangkan. Latar belakang hidupnya boleh dikata kelam: lahir dari seorang mahasiswi dari hubungan kumpul kebo (atau bahkan “one-night stand” mungkin) dengan seorang pria Timur Tengah, kemudian diadopsi oleh pasangan suami istri yang penghasilannya minim; sedemikian minimnya sampai akhirnya Steve harus berhenti kuliah karena ortu angkatnya tidak lagi bisa membiayainya. Luntang-lantung, ikut kursus kaligrafi yang di kemudian hari menjadi dasar untuk membuat tipe fonts di komputer ciptaannya (apa saya bilang? Saya kan selalu mengatakan: “There is no such thing as coincidence!”), kumpul kebo sama pacarnya sampai akhirnya melahirkan seorang putri yang dia tidak mau akui (belakangan, akhirnya dia mengakuinya dan bahkan membiayai kuliahnya), dan pernah menyarankan kepada Bill Gates untuk “coba deh LSD (baca: narkoba); entar kan ide-idemu lebih hebat”. Sebagai seorang pemimpin, dia cenderung maunya sendiri, sangat penuntut (sampai anak buahnya ketakutan setiap kali mereka bersama-sama dalam lift dengan Steve, karena bisa saja begitu keluar lift mereka sudah dipecat karena ketahuan tidak bagus kerjanya), sangat sulit percaya kepada orang lain, bahkan sampai detail terakhirpun harus dia yang kerjakan sendiri. Yang lebih heboh, beberapa ciptaannya ternyata kalau dirunut jauh ke belakang sebenarnya adalah hasil mengamati karya orang lain yang lebih dulu menemukannya!

Nah, dengan latar belakang seperti itu, sebenarnya apa yang membuat banyak orang kehilangan dia ketika akhirnya dia meninggal? Ya….. sayang sekali saya juga tidak tahu mengapa. Mungkin semangat juangnya, mungkin juga kehebatan gadget-gadget yang dia ciptakan, yang menurut beberapa sumber dikatakan sebagai perintis jalan ke dunia modern yang dulu hanya bisa dibayangkan di alam mimpi, mungkin juga karena sedikit banyak kita semua mirip seperti Steve: bergelimang dosa, tapi bertekun pada satu bidang yang kita harapkan akan membawa kita pada puncak kejayaan.

Posted in: Uncategorized