Posting-Posting Favorit

Posted on October 8, 2011

0


Posting favorit di blog ini adalah tentang menjadi paranoid dan tentang kelengahan, kemudian satu lagi tentang menjadi “gorgeous” (artinya: ramah dan menyenangkan). Judulnya “Ayo Menjadi Paranoid dan Jangan Naik Titanic”, kemudian “You are Gorgeous”. Satu lagi tentang mencintai seseorang apa adanya, berjudul “Just the Way You Are” (bukan versi Bruno Mars yang gombal-gombalan itu, tapi versi Billy Joel yang sarat dengan ketulusan). Yang terakhir ini malah sampai dicuplik oleh seorang Facebooker, ditaruh di lamannya, kemudian di “like” sampai ratusan orang yang rata-rata menyatakan kekagumannya terhadap posting itu. Saya sampai tergetar melihatnya . Itu pasti posting dewa; ya memang, saya adalah dewa kalau sudah sampai pada hal cinta-mencintai, hua ha hahaa!

Nah, suatu ketika seorang teman yang sangat religius melontarkan kritiknya dengan sangat langsung: “Semua postingmu rata-rata tidak diterangi Roh Kudus; kalau mau lebih populer dan dibaca orang banyak, tulislah posting tentang hal-hal baik yang diajarkan oleh Kitab Suci!”.

Maka saya pun menulis tentang Tuhan; tentang murid yang sedang bingung rohani dan bagaimana Tuhan pasti akan membawanya kembali; tentang tindakan-tindakan yang alkitabiah, dan sejenisnya yang sangat alim dan religius. Posting-posting itu bahkan saya akhiri dengan ayat-ayat Kitab Suci. Lalu semuanya saya publish di blog ini.

Apa yang terjadi?

Semua posting itu tidak laku sama sekali! Hanya beberapa gelintir orang yang membacanya. Statistik di admin menunjukkan bahwa mereka hanya bertengger satu dua hari di puncak, , sebelum kemudian digeser lagi oleh posting-posting yang saya sebutkan di awal tadi (dan yang disebut “tidak diterangi Roh Kudus” oleh teman saya tadi).

Aneh bin ajaib! Weird!

Mengapa bisa demikian? Mengapa pembaca-pembaca saya justru tidak suka posting-posting yang sarat dengan nilai baik dan bahkan ayat-ayat Kitab Suci itu? Mengapa justru banyak sekali yang menyukai posting-posting saya yang sedikit gelap, kadang sinis, walaupun tak jarang juga memang bagus?

Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tapi, . . . pikir-pikir saya sendiri memang tidak akan membaca dan menikmati posting-posting yang terlalu berakar pada Kitab Suci, apalagi kalau sudah dibumbui ayat-ayat dan sebagainya. Kalau mau yang begitu, mending saya baca Kitab Sucinya saja sekalian.

Mungkin juga itu yang dirasakan oleh pembaca-pembaca blog ini. Mungkin menurut mereka blog akan lebih renyah dan gurih kalau berkisah tentang pengalaman hidup, pandangan hidup, sentilan kritis, pendapat (sedikit) sinis, bahkan diskusi mendalam tentang hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya karena diulas dari perspektif yang berbeda.

Mungkin juga mereka melihat siapa saya dan mengatakan: “Ah, kita mah nggak percaya kalo kamu nulis yang baik-baik kayak gitu, apalagi soal Kitab Suci. Kalau kamu paksakan, malah aneh, dan postingmu jadi ndak lezat sama sekali. Untuk seorang pendosa macam kamu, ya nulis aja soal hal-hal yang sedikit berlumuran dosa; buat kami lebih enak membacanya.”

Semuanya serba “mungkin”, karena sekali lagi, saya tidak tahu pasti mengapa penggemar-penggemar blog ini justru menyukai posting yang sangat duniawi, tidak surgawi. Tapi kalau semua dugaan saya itu benar, maka saya hanya akan berucap pendek:

“Astagafirullah al-adziim!”

Posted in: Uncategorized