Nelpon Gratis Sesama XL

Posted on October 2, 2011

3


Saya happy dua hari ini. Pertama, karena akhirnya saya punya KTP, dan kedua, karena saya bisa nelpon ke ponsel teman tanpa kena biaya call.

Ha ha haa! Seorang teman yang melihat saya happy karena dua hal itu langsung ngakak.

“Makanya, jadi orang itu jangan belajar terus!” kata dia. “Lha yang gratisan kayak gitu itu kan udah dari dulu thoo?? Kok baru tau sekarang sehh kamu ini?”

Dia benar. Saya memang jenis orang yang cuek beibeh dengan segala macam perkembangan gadget, termasuk jenis-jenis layanannnya. Buat saya, ponsel adalah untuk sms, titik. BB ya untuk chat, dan itupun kalo perlu, plus sms an rutin dengan seorang murid, wis titik.

Pagi ini iseng-iseng saya ikuti tawaran nelpon gratisan dari nomer XL. Ternyata bisa! Karena terburu-buru atau saking dodolnya, saya malah nyoba nelpon ke nomor As. Begitu pulsa terpotong banyak, saya yakin pasti ada yang salah. Saya baca lagi ketentuannya. O alaaah, ternyata hanya gratis untuk nelpon ke sesama XL!

Baik. Sasaran pertama adalah istri saya yang sedang shopping di MOG. Dia kaget menerima telpon saya, dipikirnya di rumah ada apa-apa.

“Ya wis, baguslah kalau sudah tahu yang gratisan,” katanya. “Aku mau belanja lagi.”

Diam sebentar. Saya mikir: siapa lagi ya sasaran berikutnya? A haaa, saya baru tahu ternyata nomor CF adalah nomer XL juga. Kontan saya telpon dia.

“Kamu dimana, Huang?”

“Di jalan, mau ke Araya. Ada apa, Pak?”

“Udah sembuh perutnya?”

“Udah. Kenapa, Pak, kok tumben nelpon?”

Nah, sampai disini saya malu mau mengatakan terus terang bahwa saya baru nemu fasilitas telpon gratis sesama XL.

“No, I need to talk to you urgently, about the contract we have been running with Blitar people,” saya berkata setelah putar otak secepat kilat. Langsung pembicaraan berubah jadi serius. Saya pingin ketawa, ndak kuat menahan geli melihat kepura-puraan saya. Dasar!

Pembicaraan sampai 5 menit lebih, lalu berakhir. Pulsa tidak terpotong sama sekali. Yihaaa!

Terus saya diam sejenak. Hmm, aneh juga mendengar suara lao shi itu di telpon. Dia bicara bahasa Indonesia, bahkan sedikit Jawa, dengan fasih, namun dengan logat China. Lucu kedengarannya. Hmm, ah . . . telpon lagi ah!

Kali ini dia membaui ada sesuatu yang nakal. “Kenapa kamu telpon terus? Ndak biasanya kayak gini?”

Akhirnya saya berterus terang dan kamipun ngakak bareng.

“You are so jadul,” katanya ketika mengakhiri telpon itu.

Komunikasi di jaman millenium ketiga memang nyentrik. Teknologinya memungkinkan kita berkomunikasi dengan beberapa cara lewat ponsel: sms, BB chat, atau langsung telpon. Setelah bosan dengan call langsung, banyak orang lebih memilih sms an. Bosan sms an yang kadang-kadang terhambat koneksi yang sedang kelebihan beban, orang beralih ke chat BB. Tapi sekarang pun BB banyak macetnya. Maka nampaknya orang kembali ke call langsung.

Seperti apakah moda komunikasi sepuluh atau dua puluh tahun lagi? Telepati? Simplifikasi bahasa? (misalnya, sekarang beberapa orang tanpa sungkan menyingkat ucapan selamat ulang tahun menjadi singkatan yang sungguh efisien tapi menyedihkan: HAHB WUATB, alias Have a Happy Birthday, Wish You All The Best!)

TksSM SJDPM (= Thanks sudah membaca; sampai jumpa di posting mendatang. Bah! Maksa banget, ha ha aa! )

Posted in: Uncategorized