Ting Mama De Hua

Posted on October 1, 2011

0


Ibu saya menelpon kemarin. Kalau Ibu yang menelpon, saya mau tak mau harus mendengarkan dan mematuhinya. Sekalipun secara akademis saya jauh di atas beliau, saya harus mendengarkan.

Pertamanya sih Ibu hanya bilang tentang ucapan selamat yang masih mengalir juga dari orang-orang yang tidak saya kenal dekat, namun kenal dengan ayah dan ibu saya. Pengukuhan Profesor itu sendiri sudah dua minggu yang lalu dan saya sudah kembali menjadi manusia biasa (baca: lengkap dengan ungkapan spontan dan kesebalan-kesebalan yang tertuang di media sosial tertentu) , namun tetap saja ucapan masih mengalir. Berita terakhir tentang saya muncul di Jawa Pos, lengkap dengan foto saya.

Nah, lalu Ibu mengatakan begini:

“Itu artinya kamu punya status yang tidak main-main. Itu artinya banyak orang memandang kamu sebagai figur tokoh dan panutan. Kamu harus hati-hati menjaga sikap dan perbuatan, karena banyak mata akan memperhatikan. Sekali kamu salah langkah, orang akan mencercamu habis-habisan.”

Lalu itu masih ditambah dengan ceramah panjang lebar tentang pentingnya untuk selalu berteguh dalam Tuhan Yesus.

Saya hanya mengiyakan. “Iya, Bu,. . . iya Bu. . . “ begitu ucap saya.

Kepala makin lama makin berat. Bukan karena capek, tapi karena apa yang dikatakan Ibu saya mendadak terasa seperti beban berat yang tiba-tiba harus saya pikul. Setelah gelar itu didapat, apalagi setelah pengukuhan, terasa sekali saya jadi sorotan banyak orang. “Seorang Profesor harus bisa cari solusi,”; “Seorang Profesor harus menjadi teladan,”; “Masak Profesor kok nulis status kayak gitu di FB?”, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tidak mudah menjadi seorang yang diharapkan untuk menjadi teladan. Apalagi kalau orang itu seperti saya yang sangat sadar tentang kelemahan-kelemahan dirinya, dan masih harus bergumul habis-habisan mengalahkan egonya yang cenderung lemah dan maunya menang sendiri itu.

Tapi yaah, Ibu saya benar. Dia mengingatkan satu hal yang mau tak mau harus saya lakukan: menjadi figur yang lebih baik untuk menjadi garam bagi dunia atau lilin dalam kegelapan. Semoga saya bisa. Saya ndak janji lho. Saya toh manusia, bukan setan botak atau cucunya Dracula atau malaikat. Saya akan lakukan apa yang sudah dimandatkan dengan sebaik mungkin. Telpon dari Ibu saya itu saya anggap sebagai pengingat yang ajeg untuk senantiasa menjalani hidup di jalur yang lurus dan terang.

Post note: Ting Mama De Hua = bahasa Mandarin. Artinya: “dengarkanlah kata Ibu”.

Posted in: Uncategorized