Kesalahpahaman antar Budaya

Posted on September 28, 2011

0


Kampung global yang secara geografis besarnya sa’ hohah ini semakin intens membawa warganya pada persinggungan antar budaya. Akibatnya, sering terjadi kesalahpahaman antar budaya. Cross cultural misunderstanding, istilah bahasa Inggrisnya.

Saya mengalaminya beberapa kali secara langsung, sehingga percaya bahwa kesalahpahaman budaya itu memang nyata adanya.

Yang pertama terjadi ketika saya masih bekerja sebagai pimpinan Language Center di Surabaya. Seorang pria Korea meminta informasi tentang kursus privat bahasa Indonesia. Begitu saya sampaikan harganya, dia kontan mengeluh: “Wah, tinggi sekali biayanya!”.

Setelah beberapa kali mencoba meyakinkan bahwa biaya itu sudah pantas dengan apa yang akan kami berikan di kursus tersebut, akhirnya saya melakukan hal yang saya pikir lumrah dilakukan di budaya saya, yaitu merendahkan biaya itu beberapa ratus ribu rupiah.

Tanpa disangka, pria Korea itu kaget dan mengatakan dengan spontan: “Lhoo, kok begitu??!!”

Saya juga ikutan kaget. Saya bilang, “Bukannya tadi Bapak meminta keringanan harga?”

Dia menjawab: “Bukan, bukan begitu. Anda tidak boleh begitu!”.

Pembicaraan itu pun akhirnya berakhir dengan kedua belah pihak merasa sama-sama bingung.

Ketika saya ceritakan hal itu kepada seorang guru Korea, dia tertawa dan mengatakan: “Memang itu cara pikir kami di Korea. Kalau Anda bisa merendahkan biaya kursus Anda dengan begitu saja, dia pikir nanti Anda bisa melakukannya dengan semua kelas yang lain. Akibatnya kan dia jadi tidak tahu apakah dia sudah mendapatkan harga yang pantas atau tidak. Kan calon murid yang lain bisa saja mendapatkan biaya yang lebih murah kalau mereka pandai menawar dan lain sebagainya?”.

“Gobloook!” demikian saya merutuki diri sendiri setelah mendengar penjelasannya. “Ya, betul juga sih cara pikir itu. Di budaya saya, ndak pernah terpikir yang seperti itu. Orang Indonesia mah malah senang kalau bisa menawar dan mendapatkan biaya yang lebih murah.”

Nah, peristiwa kedua diceritakan oleh Ronald Keeler, dosen asal Amerika Serikat yang beristrikan seorang wanita Indonesia. Dia bercerita, mereka sering cekcok kecil karena masalah waktu. Kalau si Ron tanya, “kapan nih kita berangkat ke tempat wisata itu?”, istrinya akan menjawab: “Nanti siang.” Nah, jawaban ini sungguh tidak memuaskan si pria Amerika itu. Dia bertanya lagi: “Iya, nanti siang itu kapan?”. Istrinya bersikeras: “Ya, pokoknya nanti siang, ndak sekarang. Ini kan masih pagi.”. Ron tetap ndak mau kalah. Dia bilang: “Lho, ini lho ada jam! Kan kamu bisa bilang jam berapa kita akan berangkat? Jam sebelas? Jam dua belas?”.

Saya berani taruhan bahwa si istri pasti masih ngotot menjawab” “Iya, nanti siang pokoknya!”.

Konsep waktu memang sering menjadi pemicu kesalahpahaman budaya. Saya juga masih sering mendengar rekan atau pejabat-pejabat tingkat kelurahan berkata kepada saya: “Iya, Pak, besok kembali aja setelah maghrib ya?”. Dalam hati saya bertanya a la Ronald: “Iyaa, setelah maghrib itu jam berapa? Jam setengah tujuh? Jam tujuh? Jam sebelas malam juga sesudah maghrib?”.

Herannya, mungkin karena sudah membudaya, orang-orang Indonesia seperti sepakat memahami bahwa “setelah maghrib” itu ya pantas-pantasnya antara jam setengah tujuh sampai jam setengah delapan. Lebih dari itu sudah dipandang tidak berbudaya Indonesia, ha ha haaaa!

Jadi demikianlah kasus-kasus cross cultural misunderstanding. Menarik untuk saya yang makin lama makin harus semakin sering berinteraksi dengan orang-orang dari mancanegara.

Posted in: Uncategorized