Berkomunikasi Efektif: Dengarkan!

Posted on September 28, 2011

0


Sejak kemarin saya mengikuti training berjudul “Effective Supervisory” di Institut Prasetya Mulya, Jakarta, bersama beberapa rekan. Salah satu hal bagus yang disampaikan oleh fasilitator, dan langsung saya setujui, adalah cara berkomunikasi efektif.

“Komunikasi efektif” demikian kata beliau, “tidak selalu bermakna ngomong terus. Ada kalanya kita harus mendengarkan dengan perhatian—jargon teknisnya: melakukan attentive listening—supaya komunikasi bisa berlangsung dengan efektif”.

Betul sekali.

Bagaimana kita bisa mengetahui dengan baik, bahkan merasakan dengan benar, apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh lawan bicara, kalau kita tidak mendengarkan dengan perhatian?

Bagaimana kita bisa mengujarkan ide yang relevan dan kontributif terhadap lawan bicara, kalau kita tidak mendengarkan dengan cermat apa yang dia sampaikan?

Bagaimana kita bisa mengetahui permasalahan yang dia alami, kalau kita sibuk dengan pikiran kita sendiri dan siap-siap langsung nyablak (buka mulut sekenanya) begitu dia berhenti bicara sepersekian detik saja?

Sayangnya, sepanjang pengalaman saya, orang yang bisa dan mau melakukan attentive listening tidak banyak. Di lembaga saya sendiri, hanya ada satu yang saya ketahui melakukannya dengan baik, yaitu seorang guru besar yang sudah sangat senior. Pucuk pimpinan lainnya masih cenderung memotong bahkan sebelum saya sempat menyelesaikan penyampaian buah pikiran saya. Kalau sudah begini, komunikasi jadi tidak efektif, karena apa yang dia sampaikan atau putuskan kemudian menjadi tumpul karena pada awalnya dia tidak mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan stafnya. Yang lebih parah lagi, kalau sudah benar-benar jengkel akhirnya saya cenderung diam dan tidak menyampaikan ide-ide saya. Malas dah, lha gimana, wong baru juga mengucapkan dua kata dia langsung menggonggong.

Komunikasi yang efektif memang harus seimbang: berkata banyak, diam banyak, mendengarkan juga banyak, kemudian berkata-kata lagi, dan begitu seterusnya.

Easier said than done? Enggak juga. Saya sudah mempraktekkannya bertahun-tahun. Coba dah Anda datang dan ngomong sama saya, Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana saya melakukan attentive listening yang kemudian membuka jalan ke arah komunikasi efektif itu.

Posted in: Uncategorized