Berpikir tentang Dirimu

Posted on September 23, 2011

0


Salah satu mahasiswi saya menulis kalimat ini di kelas Grammar: “I am thinking about him even though I know he is not thinking about me. Is this what we call ‘love?'”

Spontan setelah membaca keras – keras, kalimat itu, saya berkata: “No, that is what I call ‘a waste of time!’ “

Kontan semua mahasiswa ngakak, tak terkecuali si C yang membuat kalimat tadi itu.

Saya pernah menulis di blog ini bahwa hobi memancing itu adalah pekerjaan yang tidak berguna sama sekali. Tapi ternyata ada yang tidak kalah percumanya. Apa itu? Ya itu tadi yang ditulis mahasiswi saya: “berpikir tentang seorang pria yang sama sekali tidak sedang berpikir tentang dia sama sekali.”

Saya pernah mencoba menyadarkan seseorang yang sedang melakukan pekerjaan paling percuma tersebut. “Percuma!” kata saya, “seandainya dia masih single pun, dia nggak bakal mau kok sama kamu. Kamu tuh bukan tipe dia!”.

Lha kan ya kasihan banget tho, seorang wanita muda mengharapkan perhatian dari seorang pria yang sama sekali tidak punya selera sama dia. Mau dikasih perhatian kayak apa lagi? Dikasih oleh-oleh sudah; dikasih sms, sudah; di ‘like’ semua statusnya di FB, sudah. Masak iya mau ditunggui di depan kantornya sehari penuh sambil menatap si pria dengan mata penuh harap, berharap supaya si pria merubah pikiran dan menjadi tertarik kepadanya? Lha kan ya pasti si pria akan keluar dari kantornya dan memanggil konselor universitas atau bahkan satpam untuk merawat mahasiswi kurang normal ini.

Setelah beberapa lama mencoba menyadarkannya dan dia belum sadar juga, akhirnya saya yang menyerah. Ya sudah, saya biarkan saja dia mengharu-biru dengan pria idaman yang tidak pernah akan menjadi lebih dari pria impian itu. “Entar kalo kamu sudah umur 70 tahun kan sadar sendiri,” demikian batin saya.

Sisi lain dari kejadian ini adalah satu fakta bahwa perasaan memang aneh. Kita bisa merasa suka terhadap seseorang tanpa alasan yang jelas. Apakah itu caranya bicara? Endak juga. Apakah bentuk matanya? Endak juga. Apakah sikapnya yang alim? Nggak tahu juga. Lha terus apa? Ya endak tahu, pokoknya kalau suka ya suka aja. “Chemistry,” kata orang. “Soulmate,” kata yang lain. “Gila sesaat!”, komentar yang lain lagi. “Kharisma”, kata seseorang. Wah, banyak banget. Tapi semuanya ya hanya dugaan-dugaan saja, tidak pernah ada bukti yang sangat meyakinkan tentang mengapa kita bisa suka sama satu orang dan tidak kepada yang lain.

Posted in: Uncategorized