Kalimat Minim Meruyak Kalbu

Posted on September 22, 2011

0


Angin kencang berhembus tinggi di langit yang biru, kelam dan sepi.

Sepatu anak-anak di puing-puing bekas ledakan bom di pasar.

Coretan-coretan di dinding gedung bekas penjara.

Seprei kusut di ranjang sepasang suami istri yang sudah berangkat kerja.

Laptop low-batt dan botol Aqua setengah kosong di kelas sepi.
=====

Apa yang terlintas di benak Anda ketika membaca kalimat-kalimat itu? Ndak ngefek? Bingung?

Ya, kalau Anda punya naluri agak artistik, Anda akan merasa tergetar oleh kalimat-kalimat pendek itu. Kalimat itu pendek, namun efeknya dahsyat, bisa seketika membangkitkan rasa nglangut, abstrak, tercekam, bergairah (yg soal sprei kusut), dan bahkan terenyuh (yang tentang sepatu anak dan laptop low-batt)

Itulah kekuatan bahasa. Melalui kalimat minim, sang sastrawan bisa menerobos ke alam bawah sadar yang maha luas, maha liar, dan sangat manusiawi, tanpa topeng atau pretensi.

Novelis Ernest Hemingway pernah menulis cerpen paling pendek: “Dijual: sepasang sepatu bayi. Belum pernah dipakai.” Waktu saya tanya murid saya mahasiswa sastra Inggris, “kamu merasa gimana membacanya?”, dia bilang: “Oh, ini mungkin si novelis sedang butuh duit jadi dia jual sepatu bayinya.” Dasaaarrrr! Gobloook! “Bukan itu,” sahut saya. “Kalau itu mah ndak usah jadi sastrawan, jadi pedagang di pasar aja!”.

“Lho, lha habis gimana, Pak?” tanya dia.

“Nah, itu semestinya membangkitkan perasaan sendu, karena itu ditulis oleh seorang yang baru saja kehilangan bayinya, padahal dia dan istrinya mungkin sudah menyiapkan semua perlengkapan bayi.”

Si mahasiswa baru sadar. Dia nampak terperangah, dan selanjutnya matanya agak berkaca-kaca membayangkan tragedi itu. Mungkin karena cewek, dia bisa merasakan beratnya punya bayi yang kemudian mati, padahal sudah menyiapkan semua mainan, ranjang bayi, popok, susu, dan sebagainya.

Kembali pada kalimat minim namun dahsyat itu. Anda bisa membuat barang satu atau dua biji saja?

Posted in: Uncategorized