Pemimpin Kok Curhat??

Posted on September 20, 2011

0


Pemimpin itu manusia juga. Tapi karena dia jadi pemimpin, dia dipercaya untuk tidak menjadi manusia biasa, setidak-tidaknya selama jabatan pimpinan itu masih melekat.

Satu hal yang membedakan seorang pemimpin (yang baik) dengan anak buahnya adalah : pemimpin jarang mengeluh berkepanjangan.

Sebagai manusia, wajar kalau suatu saat–ketika kesulitan datang tak henti-hentinya, atau ada masalah besar yang sudah berbulan-bulan tidak kunjung selesai, atau ada hambatan besar– seorang pemimpin ingin curhat, ingin mengeluh, bahkan memaki.

Namun kalau ia melakukannya secara berkepanjangan, anak buahnya akan (1) bingung (2) tambah putus asa, (3) tambah ikut-ikutan ‘panas’ sehingga keseluruhan tim pada akhirnya akan membabi buta dan mengambil langkah yang salah.

Seorang pemimpin yang baik tahu bahwa sekalipun ia sendiri marah, jengkel, sebal, bahkan nyaris putus asa, dia tidak bisa menyeret timnya ke dalam emosi yang negatif itu. Dia cukup mengeluh atau curhat sebanyak 10% dari keseluruhan interaksi dengan anak buahnya, lalu yang 90% dia gunakan untuk mulai berpikir jernih, mengajak timnya brainstorming, memberi pandangan optimis, dan menenangkan anak buahnya yang mulai kehilangan kendali diri.

Saya nulis begini karena sudah pernah merasakan tidak enaknya punya pemimpin yang setiap rapat hanya mengeluuuh saja, hanya curhaaat saja, hanya memaki-maki saja. Dialog yang cerdas dengan logika dan mempertimbangkan semua sudut pandang dan alternatif jadinya sangat minim. Ketika sudah tiba saatnya mengambil keputusan, semua anak buahnya sudah lemas, tidak bersemangat, atau malah emosional karena terbawa omelan, keluhan, dan maki-makian pimpinannnya. Akibatnya keputusan yang diambil juga tidak kokoh, tidak prospektif, tidak punya daya dobrak, terkesan ngambang dan ala kadarnya saja.

Setiap kali stafnya bilang :”jalan buntu!”, pemimpin yang baik bilang: “Ok, kita coba solusi lain.”

Setiap kali stafnya bilang: “Sudah kami minta berkali-kali, tetap tidak ada jawaban”, pemimpin bilang, “Ok, kita tunggu beberapa hari lagi. Kalau belum ada kita cari cara kontak yang lain. Sementara menunggu, kita mantapkan persiapan kita.”

Setiap kali stafnya bilang: “Si A mau keluar! si B sudah tidak betah! Gajinya terlalu kecil!”, si pemimpin yang baik akan bilang: “Ok, kita coba mengevaluasi sebab-sebab kenapa mereka keluar, dan kita benahi sistem internal supaya yang sudah masuk tidak keluar juga.”

Berat ya jadi pemimpin? Sudah harus tahu semua detail, harus bisa membuat rencana, harus bisa mengajak stafnya untuk mewujudkan rencana tersebut, masih dituntut harus bijaksana, cool, tidak emosional, bahkan tidak boleh terlalu banyak curhat dan memaki-maki.

Makanya jangan heran kalau gajinya ya beberapa kali lipat lebih besar daripada stafnya. Sudah layak dan sepantasnya, karena memang tuntutannya berat.

Posted in: Uncategorized