INgin Hidup 1000 Tahun Lagi

Posted on September 19, 2011

0


Saya sedang menjaga ayah di rumah sakit dua minggu lalu pasca operasi prostatnya ketika pikiran aneh itu menyerang lagi. Saya tidak ingin hidup lama.

Ide gila itu timbul mungkin setelah saya merasa ngeri melihat dan mendengar cerita-cerita tentang orang lanjut usia yang mulai sakit-sakitan. Ada saja penyakit-penyakit mereka ini: yang stroke lah, yang jantung koroner lah, yang diabetes lah, yang kanker usus lah. Lalu keluar masuk rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia.

“Kelak kalau aku sudah mulai sakit-sakitan ketika sudah tua,” demikian saya mulai curhat kepada CF, “aku mau istriku menyuntikku mati saja. Aku tidak mau merepotkan.”

“Huss, itu dosa!’ jawabnya. “Ya, kamu yang mati enak, tapi kasihan yang kamu tinggalkan.”

Saya masih ngotot pingin mati saja. Pembicaraan via BB itu terputus ketika saudara-saudara saya datang ke rumah sakit untuk menjenguk dan menggantikan saya jaga. Pembicaraan mengalir, kemudian berubah menjadi guyon-goyon. Karena merasa lucu, saya pun seperti biasa mulai ngakak ndak karu-karuan. Nah, di tengah ngakak-ngakak itulah tiba-tiba saya merasa ada rasa sakit di dada.

Pertama masih bisa saya abaikan. Namun lama-lama makin menjadi-jadi, sampai akhirnya saya panik. “Duh, mati beneran aku nih!” batin saya. Saya langsung menyesal bukan main tadi bilang kepada Ciyu mau mati saja. Terus saya berdoa. “Saya belum mau mati sekarang,” bisik saya dalam hati.

Untung akhirnya rasa sakit di dada yang misterius itu menghilang. Fiyuuuh, leganya . . .

“Tadi setelah ngomong sama kamu aku nyaris mati,” saya cerita lagi ke Ciyu pada malam harinya menjelang tidur. Saya ceritakan apa yang saya alami.

“Nah, tuh kaan! Kapok!” dia bilang. “Makanya, hati-hati kalau ngomong. Masih muda sudah mau mati”.

Dia masih ngomel panjang pendek. Kali ini saya diam saja tidak mendebat.

Be careful what you wish for, demikian kata pepatah Inggris.

“The power of thought,” saya ingat suatu buku yang pernah saya baca. “Ketika kita berpikir sesuatu, itu sama saja dengan menciptakan cukup energi untuk membuatnya nyata, entah di alam kuantum sana atau di kosmos yang paralel dengan dunia kita sekarang ini. Kalau kosmos itu kemudian bersinggungan, maka terjadilah apa yang kita harapkan atau pikirkan itu.

Happy living!

Posted in: Uncategorized