Profesor Kalap

Posted on September 18, 2011

0


Setelah selesai acara pengukuhan saya sebagai Profesor, rasanya lega sekali. Lulus sudah saya, tidak lagi harus berdiri di depan mimbar sebagai seorang akademisi yang disorot dari mana-mana. Sekarang waktunya menggunakan “aji mumpung”.

Mumpung masih relatif muda dan sudah Profesor, saya mau membuktikan diri bahwa saya memang pantas menyandang gelar itu. Ini berarti saya akan membabi buta menggasak tanggung jawab akademis yang dipercayakan kepada saya.

Menjadi Dekan, hajar! Menjadi ketua tim reviewer, ayoo! Menjadi sekretaris Senat Universitas, sikat! Menjadi mentor, lanjuttt! Menjadi editor jurnal di luar negeri, tancap terus! Menjadi ketua satgas pembukaan Prodi Mandarin, laksanakan! Menulis artikel dan meneliti, gebeeer abisss! Mengajar, whoaaah, ini mah nafas saya sehari-hari!

Biyuh, ternyata banyak juga pekerjaan saya di Ma Chung ini. Tapi ya ndak papa, kepalang basah wis, sekarang sudah jadi Profesor, sudah dikukuhkan, ya sudah, akan saya lakukan semua mandat tersebut sebaik-baiknya sampai titik bosan penghabisan.

Kenapa aji mumpung seperti itu? Ya karena kelak kalau sudah pensiun dan sudah tua, saya akan diminta dengan hormat untuk menghentikan semua upaya itu, karena kemudian pasti akan ada Profesor-Profesor lain yang lebih muda yang akan menggantikan saya berkalap-kalap berkarya itu (mungkin Prof. Windra, atau Prof. Hari, atau Prof. Ginting, atau Prof. Yudi). Saya harus mundur dari gelanggang, lantas menekuni dunia pertobatan dan meditasi, atau menulis buku, atau mungkin banting setir jadi petani buah-buahan , atau menyewakan kolam pemancingan. O alaaah, lha kok adoh temen??

Di tengah euphoria menjadi Profesor, kok tiba-tiba saya merasa ngenes sendiri mengenang beberapa rekan yang saya tahu bahkan mungkin sudah harus melepas impian menjadi seorang Guru Besar. Saya ingat suami dosen saya dulu yang nekad membakar disertasinya karena berkonflik dengan pembimbingnya. Sampai calon Doktor ini wafat pun, dia tidak pernah menjadi Doktor. Saya ingat rekan saya sendiri, atasan saya di UMC, yang entah sampai kapan harus menyimpan impiannya menjadi Doktor. Usia dan keluarganya membuat dia tidak mudah menjatuhkan keputusan untuk studi S3. Belum lagi mantan Kaprodi Akun juga demikian.

Ungkapan saya yang saya rasa paling bagus adalah ketika diwawancara Pak Jasmin: “There is more to life than just being a Professor”. Ya, bahkan Pak Jasmin sampai sangat terkesan oleh ungkapan saya itu. Ya memang, dalam pandangan hidup saya, tujuan utama adalah memuliakan kemanusiaan, dan menjadi Profesor hanya salah satunya. Masih banyak cara dan jalan untuk memuliakan namaNya lewat pengabdian kita secara total, di bidang apapun itu.

Posted in: Uncategorized